“Jangan Meremehkan Akar Rumput”

icon-akar-rumput-mtaHarian Solopos (15/5). Beberapa minggu menjelang pemilu atau pemilukada para calon pemimpin sibuk mencari dukungan dari rakyat. Mereka berusaha mendapatkan suara sebanyak-banyaknya, karena suara mereka menentukan menang atau kalah dalam pemilu atau pemilukada tersebut.

Para calon pemimpin bersikap sok merakyat, murah senyum, dan suka menyapa. Yang biasanya belanja di Mall-mallpun tiba-tiba blusukan masuk ke pasar-pasar tradisional untuk memperkenalkan diri sekaligus mencari dukungan. Banyak diantara mereka yang suka menebar janji, tidak peduli kelak pada saat menjadi pemimpin bisa merealisasikan atau tidak, yang penting mendapatkan simpati.

Bahkan ada pula calon pemimpin yang menyuap rakyat agar memberikan suara kepadanya. Mereka memberikan uang dengan alasan berbagi rejeki, padahal selama ini tidak pernah mereka peduli kepada orang miskin, sekalipun dia tetangganya. Suara rakyat jelata menjadi segala-galanya bagi calon pemimpin yang tidak bermoral tersebut. Mereka menghalalkan segala cara untujk memenangkan pemilihan.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar calon pemimpin yang telah terpilih, tidak lagi peduli kepada rakyat jelata. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana mengembalikan uang yang telah mereka keluarkan untuk membiayai kampanye. Kalau menunggu datangnya uang halal, maka lama sekali uang itu akan kembali, bahkan mungkin saja selama 5 tahun menjadi pejabat tidak pernah akan kembali.

Untuk itu banyak diantara mereka yang kemudian kong kali kong dengan para cukong alias pengusaha hitam dengan mengorbankan kepentingan orang banyak. Halal haram sudah tidak lagi menjadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan, yang penting mendatangkan banyak uang. Walhasil sekali lagi rakyatlah yang menjadi korban. Banyak mall berdiri megah dengan mengorbankan pasar tradisional. Banyak mini market dibuka sampai ke pelosok kecamatan, dengan mengorbankan sekian banyak warung-warung kelontong tradisional di sekitarnya.

Padahal pasar dan warung itu menjadi tumpuan hidup bagi banyak keluarga. Aturan main pembukaan mall dan mini market dibuat seolah untuk melindungi kepentingan rakyat, tetapi di lapangan tidak ditegakkan. Aparat penegak hukum seolah menutup mata akan terjadinya pelanggaran. Ketika rakyat menuntut keadilan, mereka diam seribu bahasa. Ketika rakyat melakukan demonstrasi, mereka lawan dengan kekerasan. Ketika rakyat susah mencari makan, mereka justu shoping dan jalan-jalan ke Singapura. Mereka tutupi borok dan koreng dengan retorika bahasa dan upaya perbaikan citra melalui media masa. Na'udzubillah.

عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِبْغُوْنِى فِى ضُعَفَائِكُمْ. فَاِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَ تُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ. الترميذى 3: 123 و قال: هذا حديث حسن صحيح

Dari Abu Dardaa', ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Mintalah kepadaku lantaran orang-orang lemah kalian. Karena sesungguhnya kalian akan diberi rezqi dan ditolong sebab orang-orang lemah diantara kalian". [HR. HR Tirmidzi, juz 3, hal. 123, dan ia berkata : Ini adalah hadits hasan shahih]

وَلِلنَّسَائِى بِنَحْوِهِ عَنْ سَعْدِ بْنِ اَبِى وَقَّاصٍ بِزِيَادَةٍ: اِنَّمَا نَصَرَ اللهُ هَذِهِ اْلاُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلاَتِهِمْ وَاِخْلاَصِهِمْ. فى عون المعبود 184:7

Dan di dalam haditsnya Nasai, seperti itu juga dari Sa'ad bin Abu Waqqash, dengan tambahan, "Hanyasanya Allah akan menolong ummat ini lantaran orang-orang lemahnya, dengan sebab doa mereka, shalat mereka dan keikhlashan mereka". [Dalam 'Aunul Ma'bud juz 7, hal. 184]

Pesan yang dapat diambil dari hadist ini adalah agar supaya para pemimpin tidak mengabaikan rakyat jelata, tidak meremehkan akar rumput. Boleh jadi kepemimpinannya menjadi kokoh karena doa akar rumput yang dikabulkan Allah.

Doa para pemimpin sendiri mungkin tidak dikabulkan Allah, karena apa yang mereka makan dikotori oleh barang haram. Boleh jadi pembangunan yang sedang mereka jalankan dilimpahi keberhasilan oleh Allah, karena keikhlasan akar rumput dalam bekerja. Kerja mereka sendiri tidak mendapatkan balasan dari Allah, karena dikotori oleh riya'.

Orang-orang lemah tidak banyak menuntut, mereka cukup puas dengan mendapat kemudahan mencari rejeki untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Mereka bekerja ikhlas dalam berbagai sektor kehidupan sebagai karyawan, buruh, pedagang pasar, nelayan, petani, sopir, pengemudi becak dan sejenisnya. Oleh karena itu mestinya mereka mendapatkan skala prioritas peningkatan kesejahteraannya. Tidak malah dikorbankan, seperti pepatah yang mengatakan air susu dibalas dengan air tuba.

Saudaraku, kalau kebetulan kalian menjabat sebagai pemimpin, janganlah meremehkan akar rumput. Jadilah peminpin yang bertanggung jawab. Tidak kepada umat, karena umat mudah dibohongi. Tidak kepada DPR, karena DPR mudah disuap. Tetapi bertanggung-jawablah langsung kepada Allah yang tidak bisa dibohongi dan tidak bisa disuap. Kalau kalian menjadi pemimpin, ketahuilah bahwa Kabiirul-qaum khodiimuhum (Pembesar suatu kaum adalah pelayan mereka.)

Kalian adalah pelayan umat yang mestinya siap melayani mereka 24 jam dalam sehari. Do'a mereka, shalat mereka, keikhlasan mereka akan mendatangkan barakah bagi kepemimpinan kalian. Bahkan boleh jadi 5 tahun mendatang mereka akan memilihmu lagi.

Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Katua Umum Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA)


8 komentar pada ““Jangan Meremehkan Akar Rumput”

  1. untuk menjadi rumput yang kokoh,harus ditunjang akar yang kuat pula………………………………………………………………..
    SESUATU ITU AWALNYA DARI KECIL

  2. Di Zaman yang sekarang ini manakala banyak kejadian terbalik dan mudah berubah. “Esuk Dele Sore Tempe. Sore Tempe Esuk Dele”. “Petruk Dadi Raja”, “Kere Munggah Bale”. “Sapi Nyusu Pedhet”. “Pembantu melahirkan Tuannya”. Sehingga banyak kejadian “ANEH” karena mudahnya REKAYASA. Kalo dulu ada istilah Pembeli adalah Raja, sekarang muncul tandingannya yaitu Penjual adalah Kaisar. Sehingga kalo dulu ada istilah “Suara Rakyat adalah suara Tuhan”, sekarang muncul tandingannya yaitu “Suara Tuhan bisa Dibeli dengan UANG”. Karena apa? Karena rakyat sekarang sudah jarang yang ber-TUHAN yang AHAD, Tuhan mereka sekarang adalah UANG, NAFSU, WANITA, TAHTA. Betapa MURAHnya Tuhan di jaman sekarang?. Mengapa para calon pemimpin kita hobby melakukan SAFARI POLITIK ke pesantren-pesantren Karena para Kiai punya banyak massa/santri dan para santri banyak yang Taqlid pada para kiainya. Lebih percaya omongan Pak kiainya ketimbang percaya QUran dan HADIST yang notabene Firman Alloh dan Sabda Nabi. Kita juga perlu merenungkan bahwa mengapa kita memilih menjadi akar rumput yang tangguh (terlalu lebay) padahal mana ada akar rumput yang kuat? kenapa kita tidak memilih akar pohon raksasa yang sudah jelas Kuat dan Tangguh. Bukankan Alloh lebih mencintai umatnya yang KUAT daripada yang LEMAH. Bukankan Rosul lebih bangga kalo umatnya lebih banyak ketimbang umat Nabi yang lain. Pemimpin yang hebat bukan sekedar berangkat dari NOL bahkan berangkan dari Minus. “From Minus To Hero”. Minus disini dalam artian mereka tadinya diremehkan, dicaci, dimaki, dihina, dikucilkan, Dianggap gila oleh masyarakatnya karena menyuarakan kebenaran, diusir dari kampung halamannya, difitnah untuk kemudian karena ketabahannya, keikhlasannya, tawakalnya yang kuat kepada Alloh sehingga Alloh meninggikkan derajatnya seperti Rosululloh, para kholifah, para tabi’in.

  3. jadilah akar rumput yg mandiri dan tangguh..tidak goyah apalagi hanyut oleh banjir bandang

  4. Barang siapa yg menyerahkan suatu urusan kpd orang yg bukan ahlinya tunggulah kehancurannya.
    .
    Sekarang ini banyak orang yg tidak mampu jadi pemimpin pada ingin jadi pemimpin.
    .
    Maka tak salah bila ketetapan Allah akan brlaku.

  5. Seharusnya pemimpin yg baik itu yg asalnya dari akar rumput.dia berjuang sejak dari 0 .dan dia harus ngerti dan paham betul dgn pemerintahan.dia juga terbiasa melayani masyarakat.jadi kalo menjadi orang besar tak lupa pada akar rumput dan pandai bekerja sesuai tanggungjawabnya .kalo jadi pejabat karena menyogok rakyat,dan karena kekayaannya maka rusaklah semuanya.dia makin rakus,kerjaan amburadul ,rakyat tak terurus.

  6. itulah sikap kemunafikan yang ditunjukkan oleh sebagian besar pemimpin kita, murah senyum, sapa tatkala mejelang pilkada, tapi bila jabatan sudah didapat akan berbalik 180 derajat tidak peduli dengan apa yang terjadi pada masyarakat

  7. Orang akan menerima setiap dari apa yang diberikan kepada orang lain. Jika kita meremehkan orang lain, maka suatu saat kita pasti sekali lagi PASTI akan diremehkan orang lain

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.