Jabatan Bukan Ni’mat Tetapi Amanat

jadilah-hakim-yang-adil-surga

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, hari ini 1 Syawwal 1440 H, bertepatan dengan 05 Juni 2019 M, ummat Islam di berbagai belahan dunia merasa gembira dan bahagia setelah dapat menyelesaikan ibadah puasa satu bulan penuh. Kemudian mengumandangkan takbir  -  tahlil  dan  tahmid  untuk  mengagungkan  Asma  Allah,  diakhiri  dengan menjalankan  shalat  'Iedul  Fithri  dan  saling  mengucapkan Taqobbalalloohu  minnaa  wa  minkum  (Semoga  Allah  menerima  amal ibadah dari kami dan dari kalian), dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa  berpuasa  pada  bulan  Ramadlan  karena  iman  dan  hanya  mengharapkan pahala dari Allah semata, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. [HR. Bukhari juz 2, hal. 253]

Disamping  kebahagiaan  yang  kita  rasakan,  hati  kita  diselimuti  rasa kesedihan yang mendalam, karena sebagian dari saudara-saudara kita di negeri  ini  tidak dapat meni’mati nyamannya dan berkahnya bulan suci Ramadlan dan  Hari  Raya ‘Iedul Fithri yang dirayakan oleh ummat Islam di  berbagai  belahan  dunia  seperti  yang  kita  jalani  sekarang  ini.  Bulan Ramadlan adalah bulan yang penuh berkah, karena di bulan itulah Allah menurunkan  kitab  suci  Al-Qur’an  yang  penuh  berkah,  sebagaimana dijelaskan dalam QS. Shaad : 29,

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan  kepadamu penuh dengan berkah  supaya  mereka  memperhatikan  ayat-ayatnya  dan  supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.  [QS. Shaad : 29]

Berkenaan dengan bulan Ramadlan, Rasulullah SAW bersabda :

“Apabila  bulan  Ramadlan  datang  maka  dibukalah  pintu-pintu  surga,  ditutuplah  pintu-pintu  neraka,  dan  syaithan-syaithan  dibelenggu”.  [HR. Muslim juz 2, hal. 758, no. 1]

Di dalam hadits yang lain Rasulullah SAW menjelaskan, Puasa itu perisai. Apabila salah seorang diantara kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata keji dan  jangan berteriak-teriak. Jika ada  seseorang  yang  mencaci  makinya  atau  menyerangnya  maka hendaklah ia mengatakan, ”Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. [HR. Bukhari 2 : 228]

Jadi  puasa  itu  menegah  dari  perkataan-perkataan  dan  perbuatanperbuatan yang dilarang Allah dan Rasulullah, seperti bohong, khiyanat, curang, berkata-kata keji, dan sebagainya.

Dengan memperhatikan berbagai kejadian akhir-akhir ini di negeri yang kita  cintai  ini,  sangat  mengejutkan,  menyedihkan  serta  menyayat  hati yang sangat dalam. Mengapa bangsa kita yang mayoritas penduduknya beragama  Islam,  terkenal  santun,  lemah  lembut,  ramah,  tiba-tiba menjadi brutal seperti tidak berakhlaq, apalagi di bulan Ramadlan yang penuh  berkah  dalam  suasana  siang-malam  beribadah,  siangnya beribadah puasa, malamnya qiyamul lail.

Seolah-olah  firman  Allah  dan  sabda  Rasulullah  yang  menjadi  petunjuk bagi kehidupan manusia tersebut tidak diperhatikan atau diabaikan sama sekali. Apakah kita bangsa ini tidak punya pikiran ? Karena hanya orang yang  mempunyai  pikiran  saja  yang  dapat  mengambil  pelajaran  (QS. Shaad  :  29),  dan  apa  sudah  kabur  pikirannya  sehingga  tidak  bisa membedakan yang haq dengan yang bathil, dan yang baik dengan yang buruk  ?  (QS.  Al-Baqarah  :  185).

Lagi  pula  dikatakan  oleh  Rasulullah SAW, syaithan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.  Tetapi mengapa syaithan masih bebas mengganggu kita dan berusaha untuk membuka pintu neraka dan menutup pintu surga ? Bukankah Rasulullah SAW telah menjelaskan :

Mencaci  maki  seorang  muslim  itu  kefasiqan  dan  membunuhnya  itu kekafiran. [HR. Bukhari juz 8, hal. 91]

Apabila  dua  orang  muslim  berhadap-hadapan  dengan  menghunus pedang  mereka,  maka  yang  membunuh  maupun  yang  dibunuh,  di neraka. [HR. Muslim juz 4, hal. 2214, no. 15]

Itu  kalau  masing-masing  menghunus  pedang  memang  sama-sama bermaksud  membunuh  saudaranya,  kalau  yang  satu  tidak  ada  niat membunuh  saudaranya,  maka  tidak  membawa  pedang  (senjata),  lalu dibunuhnya, maka yang membunuh itulah yang membuka pintu neraka untuk  dimasukinya.

Rasulullah  SAW  menjelaskan  bahwa  bulan Ramadlan  pintu  surga  dibuka  agar  manusia  beramai-ramai  untuk memasukinya  dengan memperbanyak  beribadah  dan  amal-amal  shalih yang lain,  pintu  neraka  ditutup  agar  menjauhi  semua  bentuk  ma’shiyat yang  membawa  dosa,  apalagi  dosa  besar,  seperti  membunuh  orang termasuk  dosa  yang  sangat  besar.  Mengapa  sabda  Rasulullah  SAW diabaikan, Islamkah kita ? Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Pemilihan  Umum  (Pemilu)  bagi  bangsa  Indonesia  sudah  berkali-kali dilakukan,  bahkan  menjadi  agenda  tiap  5  tahun  sekali  yang  disebut pesta  demokrasi.  Mestinya  pesta  ini  dijalankan  dengan  penuh kegembiraan.  Mengapa  Pemilu  kali  ini  justru  menjadi  tragedi  yang sangat  menyedihkan  ?  Sehingga  berapa  banyak  nyawa  anak  bangsa yang  direnggut  dalam  pesta  ini  ?  Rasanya  sangat  janggal  dan  tidak masuk  akal.  Dari  situ  menunjukkan  bahwa  bangsa  ini  sudah  semakin jauh perhatiannya terhadap petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Kalau  hal  yang  demikian  kita  biarkan,  tentu  akan  timbul  kerusakankerusakan yang lebih parah di berbagai bidang. Oleh karena itu melalui Khutbah Hari Raya ‘Iedul Fithri kali ini kami mengajak seluruh komponen bangsa  terutama  yang  mengimani  Al-Qur’an  dan  As-Sunnah  sebagai petunjuknya.  Mari  kita  perhatikan  secara  serius  uraian  berikut  ini, mudah-mudahan kita bisa kembali ke jalan yang lurus.

Sebelum merayakan ‘Iedul Fithri,  ummat  Islam yang ada kelebihan dari makanan  pokok  pada  hari  itu  diwajibkan mengeluarkan  zakat  Fithrah, yakni  zakat  yang  berupa  makanan  pokok,  sebagaimana  sabda  Rasulullah SAW.

Rasulullah  SAW  telah  mewajibkan  zakat  Fithrah  satu  Sha'  dari  korma atau satu sha' dari  sya’ir (gandum) atas hamba, orang merdeka, laki-laki maupun  perempuan,  anak-anak  maupun  dewasa  dari  kalangan  kaum muslimin. Dan beliau menyuruh agar zakat fithrah itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju shalat. [HR. Bukhari juz 2, hal. 138].

Dilihat dari segi kwantitas materialnya, 1 sha’ (2,5 kg) itu kalau dikalikan puluhan  juta  kaum  muslimin  yang  merupakan mayoritas  di  negeri  ini, merupakan aset kekayaan yang besar, tetapi yang lebih penting di sini adalah peningkatan kwalitas moral bangsa. Dengan zakat fithrah, dapat menanamkan kesadaran dan kepedulian sosial terhadap sesama  yang merupakan  salah  satu  pilar  bagi  tegaknya  kehidupan  berjama’ah (kebersamaan) di satu sisi, sedangkan di sisi lain kewajiban zakat fithrah diharapkan  mampu  meredam  sifat  kikir,  thama’,  rakus,  dan  serakah terhadap  dunia,  ingin  kaya  sendiri  tanpa  peduli  nasib  orang  lain.  Sifat tersebut  merupakan  virus  yang  bisa  merusak  kehidupan  berjama’ah, berbangsa  dan  bisa  merusak  agama  seseorang.  Dalam  hal  ini Rasulullah SAW bersabda :

Kerusakan  agama  seseorang  yang  disebabkan  oleh  sifat  thama'  dan rakus  terhadap  harta  dan  kedudukan  lebih  parah  daripada  kerusakan yang  timbul  dari  dua  serigala  yang  lapar  yang  dilepaskan  dalam rombongan kambing. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 16, no. 2482]

Oleh  karena  itu,  orang  yang  rakus  terhadap  harta  dan  terlalu  ambisi memegang  suatu  jabatan,  jangan  diharapkan  bisa  memangku  jabatan tersebut  dengan  baik,  jujur  dan  amanat.  Ia  akan  memanfaatkan jabatan/kedudukan tersebut untuk memperkaya diri sendiri, memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan petunjuk-petunjuk agama  Allah,  walaupun  dengan  jalan  korupsi,  maling,  menipu, merampok, dan sejenisnya, tidak peduli lagi halal maupun haram. Orang yang  cinta  terhadap  kemewahan  hidup  dunia  akan  menjadi  manusia penakut dan tidak lagi berani berjuang di jalan Allah sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Kamu sekalian pada hari ini di atas tanda bukti  dari Tuhan  kalian,  kalian  sama  memerintahkan  kepada  yang  ma'ruf  dan mencegah dari yang munkar dan berjuang di jalan Allah. Kemudian akan muncul diantara kalian dua macam kemabukan. Mabuk cinta kebodohan dan  mabuk  cinta  kemewahan  hidup.  Disebabkan  demikian  itu  kalian berpindah haluan,  lalu  tidak  lagi  memerintahkan  yang ma'ruf  dan tidak mencegah  dari  yang  munkar  dan  tidak  berani  berjuang  di  jalan  Allah. [HR. Abu Nu'aim juz 8, hal. 49]

Dalam  riwayat  yang  lain,  mabuk  cinta  dunia  berarti  terkena  penyakit wahn.  Yakni  hubbud  dunya  wa  karoohiyatul  maut.  Akibatnya  hanya senilai  satu  hidangan  yang  diletakkan  di  suatu  piring  kemudian diperebutkan  oleh  orang-orang  yang  rakus  terhadap  makanan.

Sabda Rasulullah SAW,    “Sudah dekat para ummat manusia akan mengepung kepadamu (ummat Islam), sebagaimana orang banyak yang mengepung makanan  dalam  satu  piring".  Maka  shahabat  bertanya,  "Apakah  kita pada waktu itu hanya sedikit ?”. Jawab Rasulullah, "Tidak, bahkan kamu pada  waktu  itu  banyak.  Akan  tetapi  kamu  sekalian  pada  waktu  itu (bermental)  seperti  buih,  sebagaimana  buihnya  air  bah.  Dan  Sungguh Allah telah menghilangkan rasa takut dari dada musuh-musuhmu.  Dan sungguh Allah telah meletakkan dalam hatimu sekalian Wahn. Sahabat bertanya, "Ya Rasulullah apakah Wahn itu ?". Jawab Rasulullah SAW, "(Wahn  ialah)  cinta  dunia  dan  takut  mati".  [HR  Abu  Dawud  juz  4,  hal. 111, no. 4297].

Adapun tentang bakhil, Rasulullah SAW bersabda :

Jagalah dirimu dari sifat  aniaya  (dhalim),  karena  dhalim  itu  merupakan  kegelapan  di  hari qiyamat. Dan jagalah dirimu dari sifat kikir (bakhirl), karena sifat bakhil iru  membinasakan  ummat-ummat  sebelum  kamu,  mendorong  mereka pada  pertumpahan  darah  dan  menghalalkan  semua  yang  diharamkan Allah. [HR. Muslim juz 4, hal. 1996, no. 56]

Semoga puasa kita, shalat, serta zakat kita diterima oleh Allah SWT dan dapat menjauhkan diri kita dari sifat-sifat yang merusak itu.

Kaum  muslimin  dan  muslimat  rahimakumullah,  memperhatikan  begitu besar  bahaya  yang  ditimbulkan  oleh  sifat  rakus  terhadap  dunia  dan ambisi terhadap jabatan/kedudukan, maka Rasulullah SAW bersabda :

Demi  Allah,  kami  tidak  akan  mengangkat  seseorang  dalam  jabatan  ini pada  orang  yang  menginginkan,  dan  tidak  (pula) pada  orang  yang berambisi pada jabatan itu. [HR. Muslim juz 3, hal. 1456, no. 14]

Ketika  Abu  Dzarr  bertanya,  “Ya  Rasulullah,  mengapa  engkau  tidak memberi jabatan apa-apa kepadaku ?”. Maka Rasulullah SAW menepuk bahu Abu Dzarr sambil bersabda,  “Hai Abu Dzarr, kamu adalah seorang yang  lemah,  dan  jabatan  itu  sebagai  amanat  yang  pada  hari  qiyamat hanya  akan  menjadi  penyesalan  dan  kehinaan.  Kecuali  orang  yang dapat  menunaikan  hak-kewajibannya,  dan  memenuhi tanggungjawabnya. [HR. Muslim juz 3, hal. 1457. No. 16]

Jabatan  yang  diberikan  kepada  seseorang  bukannya  keni’matan  yang perlu  disambut  dengan  suka  cita,  ramai-ramai,  makan-makan  sambil meni’mati  berbagai  hiburan  dengan  mengundang  sanak-saudara  dan handai  taulan,  tetapi  sebenarnya  jabatan  itu  suatu  amanat  yang  berat yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah di kemudian hari, yang hanya  akan  menjadi  penyesalan  dan  kehinaan  bagi  orang  yang  tidak dapat  mengemban  amanat  itu  dengan  baik.  Lagi  pula  akan  membawa kehancuran/kerusakan  manakala  amanat  itu  disia-siakan.  Rasulullah SAW bersabda :

Apabila  amanat  sudah  hilang  (disia-siakan)  maka  tunggulah  saat kehancurannya  (qiyamatnya).  Shahabat  bertanya, "Bagaimanakah hilangnya  (menyia-nyiakan)  amanat  ?".  Rasulullah  SAW  menjawab, "Apabila  suatu  urusan  diserahkan  kepada  orang  yang  bukan  ahlinya, maka tunggulah qiyamat (kehancurannya). [HR. Bukhari juz 1, hal. 21]

Begitu pentingnya tentang amanat, maka nepotisme tidak dikenal dalam Islam.  Semua  tugas,  jabatan,  harus  benar-benar  diserahkan  kepada ahlinya  tanpa  pandang  bulu,  apakah  ada  hubungan  famili,  keluarga, golongan, suku, dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa  yang  mengangkat  seseorang  untuk  suatu  jabatan  karena kekeluargaan (golongan), padahal ada pada mereka itu orang yang lebih disenangi  Allah  (karena  kemampuan)  dari  padanya,  maka sesungguhnya  ia  telah  berkhianat  kepada  Allah  dan  Rasul-Nya  dan kepada orang-orang beriman. [HR. Hakim juz 4, hal. 104, no. 7023]

Dalam muqaddimah Khutbah ini saya kutipkan firman Allah yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad SAW), dan juga jangan kalian mengkhianati amanatamanat  yang dipercayakan  kepada kalian,  sedang kalian  mengetahui”. [QS. Al-Anfaal : 27]

Maka  perbuatan  nepotisme  pada  hakikatnya  pengkhianatan  kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada orang-orang yang beriman.  Hal itu sangat dilarang dalam Islam, karena pasti akan mendatangkan kerusakan. Allah SWT  menciptakan  manusia  dengan  tugas  pokoknya  beribadah (menghambakan diri) kepada-Nya

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku. [QS. Adz-Dzaariyaat : 56]

Setiap hari kita selalu berikrar (diwaktu shalat) membaca :

Sesungguhnya  shalatku,  nusukku,  hidupku  dan matiku  hanyalah  untuk Allah Tuhan semesta alam. [QS. Al-An'aam : 162]

Kaum  muslimin  dan  muslimat  rahimakumullah,  kalau  kita  perhatikan kewajiban  kita  sebagai  manusia  dan  ikrar  yang  selalu  kita  ucapkan, yakni “wa mahyaaya” maksudnya adalah semua aktifitas hidup  yang kita lakukan hanya dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Maka pada hakikatnya bekerjapun harus kita niatkan beribadah. Kalau bekerja kita lakukan sebagai ibadah, maka bukan upah/gaji tujuan utama yang kita inginkan,  melainkan  bagaimana  kita  bisa  menjalankan  pekerjaan  yang diamanatkan kepada diri kita dengan sebaik-baiknya agar hasil yang kita peroleh mendapatkan halaalan  thayyiban sehingga mendapat ridla Allah SWT. Oleh karena itu kita harus pegang teguh pesan Rasulullah SAW :

Ada  empat  perkara  yang  harus  kamu  pegang  teguh  hingga meninggalkan dunia ini. Menjaga amanat, berbicara yang benar (jujur), berbudi pekerti luhur (akhlaqul karimah), dan mencari penghasilan yang halal. [HR. Ahmad juz 3, hal. 177]

Kalau  demikian  keadaannya,  maka  tidak  akan  terjadi  pengkhianatan, penyimpangan  dalam  tugas,  serta  kebohongan  dalam  menyampaikan hasil  kinerjanya  kepada  atasan,  karena  ada  atasan  yang  mengawasi langsung apa yang dilakukan serta selalu menemani dirinya di manapun berada.  Atasan  yang  dimaksud  adalah  Allah  SWT.  Perhatikan  firman Allah :

Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ?”. Tidak ada pembicaraan rahasia  antara  tiga  orang  melainkan  Allah  lah  yang  keempatnya,  dan tidaklah  ada  pembicaraan  antara  lima  orang  melainkan  Dia  lah  yang keenamnya, dan tidak ada pula pembicaraan antara jumlah yang kurang dari  itu  atau  lebih  banyak  melainkan  Dia  ada  bersama  mereka  di manapun mereka berada, Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka  pada  hari  qiyamat  apa  yang  telah  mereka  kerjakan. Sesungguhnya  Allah  Maha  Mengetahui  segala  sesuatu  [QS.  AlMujaadalah : 7]

Selanjutnya mari kita perhatikan keadaan negeri kita yang disebut negeri subur  makmur,  loh  jinawi,  sampai  dikatakan  “tongkat  kayupun  jadi tanaman,  kolamnya  pun  kolam  susu”,  mengapa  jutaan  rakyatnya menderita  kemiskinan  dan  keterbelakangan  sampai  tidak  bisa mengenyam  pendidikan  yang  layak.  Sudah  beberapa  kali  negeri  ini berganti  pemimpin,  beberapa  kali  juga  rakyat  mengamanatkan  kepada wakil-wakilnya  di Parlemen,  serta  beberapa  kali  pergantian  kabinet, namun  itu  semua  tidak  membawa  rakyat  sejahtera  dan  bahagia,  bisa meni’mati dan merasakan kesuburan dan kemakmuran negeri ini, malah rakyat yang menderita  kemiskinan, pengangguran,  anak putus  sekolah semakin bertambah, dan hutang negeri ini semakin membengkak.

Dilihat dari  kenyataan  ini  menunjukkan  bahwa  para  elit  dan  para  pengemban amanat  negeri  ini  tidak  memegang  4  amanat  yang  dipesankan  oleh Rasulullah  SAW  tersebut.  Rupanya  rakyat  salah  pilih  memberikan amanat  kepada  mereka,  ketika masih  menjalankan  tugasnya  tidak memikirkan  untuk  memperbaiki  nasib  rakyat,  setelah  purna  tugas,banyak  diantara  wakil-wakil  rakyat  yang  terkena  urusan  karena  tindak pidana  korupsi,  terpaksa  harus  masuk  penjara.

Bahkan  muncul  istilah “Korupsi  berjama’ah,  ada  imamnya  dan  diikuti  oleh  ma’mumnya  yang banyak”,  maka  sulit diberantas  sekalipun  sudah  dibentuk  Komisi Pemberantasan  Korupsi  (KPK),  namun  hasilnya  belum  juga memuaskan,  membawa kemakmuran  rakyat.  Jangan-jangan  diantara mereka termasuk jenis orang yang rakus terhadap harta dan berambisi terhadap  jabatan  maupun  kedudukan,  sehingga  lupa  akan  tugas  yang diamanatkan kepada dirinya.

Kaum  muslimin  dan  muslimat  rahimakumullah,  melihat  keadan  yang memprihatinkan  ini,  maka  rakyat  sangat  mendambakan  pemimpin  dan wakil-wakil  rakyat  yang  dapat  membawa  perubahan  nasib  bangsa  dan negara ini kepada yang lebih baik, pemerintahan yang berwibawa, bersih dari  segala  kecurangan  dan  memegang  teguh  amanat  yang dipercayakan  kepada  dirinya.

Untuk  itu  diperlukan  orang-orang  yang benar-benar beriman dan bekerja  sebagai ibadah. Kalau  iman  sebagai landasan dalam menjalankan tugasnya,  niscaya Allah akan memberikan pemerintahan yang kokoh dan tidak mudah tumbang walaupun dihantam badai yang dahsyat sekalipun, serta hasil kerjanya dapat dini’mati oleh seluruh  rakyat  di  negeri  ini.  Dalam  hal  ini  Allah  memperumpamakan bagaikan pohon yang baik, yakni pohon yang akarnya kuat  menghunjam ke  tanah,  dan  cabangnya  menjulang  tinggi  ke  langit.

Setiap  musim pemiliknya  dapat  memetik  dan  meni’mati  buahnya  dengan  lezat. Sedangkan  bekerja  yang  dilandasi  dengan  tujuan  untuk  memperkaya diri,  walaupun  dengan  kecurangan  dan  kebohongan,  Allah memperumpamakan  bagaikan  pohon  yang  buruk,  yakni  pohon  yang akar-akarnya  rapuh  dan  akan  mudah  tumbang  (jawa  SOL),  tidak  akan bisa  berdiri  tegak,  sehingga  tidak  akan  menghasilkan  apa-apa  selain menambah pekerjaan yang memayahkan bagi pemiliknya.

Firman  Allah  SWT  :

Tidakkah  kamu  perhatikan  bagaimana  Allah  telah membuat  perumpamaan  kalimat  yang  baik  seperti  pohon  yang  baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (24)pohon  itu  memberikan  buahnya  pada  setiap  musim  dengan  seidzin Tuhannya.  Allah  membuat  perumpamaan-perumpamaan  itu  untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (25) Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah  dicabut  dengan  akar-akarnya  dari  permukaan  bumi;  tidak  dapat tetap (tegak) sedikit pun. (26) [QS, Ibrahim : 24-26]

Oleh  karena  itu  dengan  Presiden  dan  Wakil-wakil  Rakyat  yang  terpilih kali ini semoga bisa memenuhi harapan rakyat yang memilihnya. Mereka menjalankan  tugas  atas  amanat  yang  dipercayakan  kepada  mereka, sehingga pemegang amanat  ini  bagaikan  pohon yang baik,  yang akan menghasilkan  perubahan  yang  membawa  kemakmuran  dan kesejahteraan  bagi  seluruh  rakyat  Indonesia  dengan  idzin  Allah  SWT. Aamiin.

Kaum  muslimin  dan  muslimat  rahimakumullah,  saya  berpesan  kepada Bapak  Presiden  yang  akan  dilantik,  kalau  sudah  dilantik  nanti, perhatikan  betul-betul  sabda  Rasulullah  SAW  dalam  memilih  para pembantu (para Menterinya)

Jika  Allah  menghendaki  kebaikan  seorang  pemimpin,  maka  diberinya pembantu/menteri yang baik, jujur, setia, jika pemimpin lupa diingatkan, dan  jika  pemimpin  ingat  dibantu.  Jika  Allah  menghendaki  buruknya seorang  pemimpin,  maka  Allah  memberinya  pembantu/menteri  yang jelek  –  curang  –  khiyanat. Jika pemimpin lupa tidak diingatkan, dan jika pemimpin ingat tidak dibantu. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 131, no. 2932]

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda :

Apabila  Allah  menghendaki  kebaikan  bagi  suatu  bangsa/kaum,  makaAllah mengangkat orang-orang yang bijak (pandai) sebagai pejabat yang mengelola urusan mereka. Dan Allah memberikan harta kepada orangorang  yang  pemurah  (tidak  bakhil).  Dan  apabila  Allah  menghendaki keburukan  (kehancuran)  suatu  bangsa/kaum,  maka  Allah  mengangkat orang-orang  bodoh  sebagai  pejabat  yang  mengurusi  urusan  mereka, dan  Allah  menyerahkan  harta  kekayaan  kepada  orang-orang  yang bakhil. [HR. Abu Dawud]

Oleh  karena  itu  Presiden  nanti  harus  memperhatikan  kinerja  para menterinya  dengan  sungguh-sungguh,  sebab  akan menjadi  penentu baik-buruknya  jalannya  kepemimpinan/pemerintahan.  Maka  setelah mereka  dilantik  menjadi  menteri,  hendaklah  dilihat.  Jika  tidak  ada kemampuan menjalankan tugasnya, apalagi kerjanya jelek  ~tidak jujur~ maka  Presiden  tidak  usah  canggung  dan  ragu,  segera  dipecat  saja menteri tersebut dan dicarikan ganti yang lebih baik tanpa pandang bulu itu  siapa,  dari  partai  apa,  maupun  dari  non  partai,  demi  suksesnya kepemimpinan/pemerintahannya.

Kepada  para  wakil  rakyat  yang terhormat,  Presiden  RI  yang  ke-4  yang  akrab  dengan  panggilan  Gus Dur,  dulu  pernah  memberikan kritikan pada DPR waktu itu, kata beliau “Mereka itu seperti anak-anak TK, bahkan merosot menjadi Play Group”, karena  di  awwal-awwal  tugasnya  saja  sudah  ada  perpecahan  di lembaga mereka, saling berebut kedudukan pada waktu itu, maka rakyat jadi  cemas, termasuk Presidennya.

Kalau keadaannya  seperti itu, kapan mereka  kompak  bersama-sama  untuk  memikirkan  nasib  rakyat  yang sudah mengamanatkan kepada mereka  ?. Kritikan Presiden ke-4 pada waktu  itu  sangat  bagus  agar  menjadi  cambuk  bagi  DPR-DPR selanjutnya,  agar  tidak  seperti anak TK  lagi, tetapi  menjadi  wakil rakyat yang  cerdas, serius, bersatu padu untuk memikirkan nasib rakyat yang telah memberi amanat kepada mereka.

Kepada  para  penegak  hukum,  jadilah  penegak  hukum  yang  adil  agar menjadi hakim/penegak hukum yang dicintai Allah sehingga ditempatkan di surganya Allah kelak.

Ingat  sabda  Rasulullah SAW, “Hakim itu ada 3 macam. Seorang hakim di surga dan dua hakim lainnya di neraka. (1) Hakim  yang mengetahui kebenaran dan  membuat keputusan dengan benar (dengan adil), maka dia di surga (2) Hakim  yang  mengetahui  kebenaran,  tetapi  ia  membuat  keputusan dengan curang (tidak adil), maka dia di neraka (3) Hakim  yang  membuat  keputusan  dengan  kebodohan  (tidakmengetahui  yang  benar,  sehingga  membuat  keputusan  dengan ngawur),  maka  dia  di  neraka.  [HR.  Abu  Dawud  juz  3,  hal.  299,  no. 2573]

Akhirnya  kami  rakyat  Indonesia  yang  ada  di  akar  rumput  ini mengharapkan  kepada  tuan-tuan  yang  terhormat  yang  telah  diberi kepercayaan mengelola negeri ini dengan tugas dan tanggungjawabnya, hendaklah  seluruh  komponen  yang  ada  di  negeri  ini  baik  Executif, Legislatif  maupun  Yudikatif,  semuanya  kompak,  bersatu  padu,  jujur, tidak  ada  kecurangan  dan kebohongan  yang  akan dipertanggungjawakan di hadapan Hakim yang Maha Agung, Maha Adil, yakni Allah SWT.

Dengan  mengharap  pertolongan  dan  ridla  dari  Allah  serta  mengikuti petunjuk-Nya,  semoga  tuan-tuan  dapat  memegang amanat  tersebut dengan  sebaik-baiknya,  sehingga  negeri  ini  menjadi  Baldatun  -thayyibatun – wa rabbun ghafuur. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Demikianlah semoga bermanfaat untuk kita semua.

doa-shalat-ied-khutbah

Disampaikan oleh :
Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Yayasan Majlis Tafsir Al-Qur'an (MTA)
DALAM KHUTBAH ‘IEDUL FITHRI 1440 H
Lapangan Parkir Gelora Manahan Surakarta,
Rabu, 1 Syawwal 1440 H
[05-06-2019]