Islam Petunjuk Allah Yang Sering Diabaikan Manusia.

Segala puji hanya layak untuk Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

1.Perjalanan Menuju Kemuliaan.

Allah telah menjadikan hati manusia sebagai alat penerima sinyal-sinyal ilham, dan sekaligus tempat untuk merasakan hidayah Allah SWT. Berbahagialah orang yang selalu menjaga kebersihan hati dan perilaku, dan semua itu menjadi sarana untuk memperoleh kebabahagiaan, ketenteraman, dan kedamaian hidup. Allah berfirman,

 

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ﴿٦٣﴾ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَياةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٦٤﴾

  1. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
  2. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.
  3. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.(QS 10 Yunus,ayat 62 sd 64)

 

Untuk mencapai derajad yang tinggi dalam bidang apapun, butuh pelatihan dan pembiasaan. Maka kedudukan yang Allah sebutkan dalam ayat tersebut merupakan petunjuk Allah agar manusia tekun menuju cita-cita yang Allah tunjukkan, dan semoga dapat menggapai hingga sampai dikedudukan itu dan dapat menemukan manfaat nyata dari janji Allah tersebut.

Liku liku jalan menuju kedudukan manusia bertaqwa harus diajarkan kepada diri manusia, bahkan harus dimulai sejak muda, agar dapat disiplin menempuh jalan tersebut dengan tidak banyak hambatan.Maka manusia perlu dan butuh sarana untuk membangun kemampuan tersebut, baik sarana fisik dan non fisik, dan yang paling utama adalah guru-guru yang sudah pandai membawa diri dan muridnya untuk menapak jalan-jalan menuju cita-cita tersebut.

 

  1. Jalan Menuju Kehinaan.

Segala puji hanya untuk Allah, ada gelap ada terang, ada hitam ada putih, dan semua serba berpasangan. Celakalah orang-orang yang tidak hirau dengan jalan kebenaran yang datang dari Allah, dan mereka lebih suka menempuh jalan semaunya sendiri (hawa nafsu) dan malah menyalahkan dan mengolok-olok jalan hidayah Allah, maka jelas orang seperti ini akan hidup dalam kegelisahan, kegundahan, kecemasan, kesedihan dan kesempitan.Allah telah berfirman,

 

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٨٥﴾ كَيْفَ يَهْدِي اللّهُ قَوْماً كَفَرُواْ بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُواْ أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٨٦﴾

  1. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
  2. Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim..(QS 3 Ali Imran ayat 85 sd 86))

 

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ ﴿٣﴾

  1. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.( QS 3 Zumar ayat 3)

 

وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلاً أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءكُم بِالْبَيِّنَاتِ مِن رَّبِّكُمْ وَإِن يَكُ كَاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَإِن يَكُ صَادِقاً يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ ﴿٢٨﴾

  1. Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. ( QS 40 Ghafir ayat 28)

 

Allah SWT, menunjukkan dua tanda nyata manusia dalam menerima hidayah Allah, manusia jenis yang pertama, mereka mengilmui, mengimani dan mengamalkan serta menempuh jalan yang membawa kepada keridhoan dan Rahmat Allah SWT, akhirnya mereka bahagia dalam ketaqwaan. Sedang manusia jenis kedua, mereka adalah manusia yang sebenarnya manusia tersebut telah merasakan kebenaran itu namun lebih memilih kepada kemauan diri (hawa nafsu), tanpa mau menggunakan jalan yang ditunjukkan oleh Allah kepadanya.

Dari zaman ke zaman, manusia sering mengabaikan petunjuk Allah, disebabkan alasan-alasan duniawi, alasan berebut kenikmatan kehidupan dunia tanpa mengingat dan mempertimbangkan kehidupan akherat. Walhasil semua itu akan membawa kepada penyesalan yang tidak lagi bisa merubah keadaan, penyesalan yang tiada berguna. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ ﴿٤﴾ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ ﴿٥﴾

  1. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).
  2. Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi. ( QS 27 An-Naml ayat 4 dan 5)

 

Manusia perlu selalu waspada terhadap diri dan setidaknya pada keluarga tanggungannya, agar mereka selalu tekun belajar petunjuk Allah SWT. Dan berusaha dengan sabar mendidik diri dan keluarga untuk berlomba-lomba menggapai pada derajad taqwa. Sehingga akan hidup dalam bahagia, tenteram dan damai. Dan tidak membiarkan segala kelalian terjadi sehingga cita-cita haqiqi menjadi terhenti dan tidak tergapai. Wallahu a’lam.