InsyaAllah…Menuju Haji Mabrur

icon-berangkat-hajiKonon jaman dulu, pendahulu kita ketika akan melakukan ibadah haji bisa ada yang memakan selama bertahun-tahun. Pertama dikarenakan teknologi perjalanan yang masih mengandalkan jalur laut dan darat. Tetapi juga ada juga yang melakukan perjalanan sambil mencari bekal didalamnya, ketika sudah terkumpul dia akan melanjutkan arah tujuan demikian seterusnya.

Sambil bekerja, menimba ilmu, berdakwah dan tetap fokus dengan satu tujuan. Sehingga sampai di Masjidil Haram..subhanallah demikian kuat dan ikhlasnya semangat mereka. Bahkan demi memanfaatkan aji mumpung di Mekkah, mereka tidak hanya sekedar haji tetapi menimba ilmu dari ulama-ulama karena bisa jadi ini perjalanan pertama dan terakhir. Setelah kembali ke tanah air, beliau-beliau menjelma menjadi pendakwah dan ulama di Indonesia. Menjadi pencerah, membawa ilmu sesuai Al Qur'an dan As Sunnah. Bagaimana dengan kita??? Sungguh hina jika mengaku muslim, tapi bercita-cita haji-pun tidak.

Perintah Haji sebagai Amalan Utama

Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang lima, dan salah satu kewajiban dalam Islam, berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan ijma' kaum Muslimin.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali 'Imran: 97)

Dan Sabda Rasulullah SAW :

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ وَ حَجِّ الْبَيْتِ الْحَرَامِ

"Islam dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang haq kecuali Allah, dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasul utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah." (Hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim).

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ

"Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari Az Zuhriy dari Sa'id bin Al Musayab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Ditanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "'Amal apakah yang paling utama?". Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasulNya". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah". Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Hajji mabrur".(Hadits shahih riwayat al-Bukhari).

Bersegera Haji

Bagi orang yang telah memiliki kemampu-an dan memenuhi segala persyaratan, wajib untuk segera melaksanakan ibadah haji. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيْضُ وَتَضِلُّ الضَالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ

"Barangsiapa hendak melaksanakan haji, hendaklah segera ia lakukan, karena terkadang seseorang itu sakit, binatang (kendaraannya) hilang, dan adanya suatu hajat yang menghalangi."( HR. Ibnu Majah)
Dan sabda beliau:

تَعَجَّلُوْا إِلَى الْحَجِّ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

"Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya salah seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merinta-nginya."(HR.Ahmad)

Jangan pernah menunda beramal termasuk ibadah haji. Jika kemampuan telah ada, wajiblah kita bersegera menuju tanah suci.

Tidak Semua Haji Mabrur

Balasan yang paling besar dari Allah SWT adalah ridho-Nya masuk ke syurga. Syurga digambarkan sebagai balasan terbaik bagi muslim yang mengadakan haji dengan mabrur. Sebuah tempat yang didalamnya ada kenikmatan yang tidak terbayangkan, terlihat, terdengar bahkan terbentik pun belum.

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ

{ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ }

"Telah bercerita kepada kami Al Humaidiy telah bercerita kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman: "Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia". Bacalah firman-Nya jika kamu mau (QS as-Sajadah 17) yang artinya ("Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang telah disediakan untuk mereka (kenikmatan) yang menyedapkan mata")." (HR. Bukhari)

Untuk haji secara khusus, Rasulullah SAW bersabda, : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Summi Maula Abu Bakr bin Abdurrahman, dari Abu Shalih As Samman dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Umrah demi umrah berikutnya adalah masa penghapusan dosa. Dan tidak ada ganjaran bagi ibadah haji yang mabrur kecuali surga..." (HR.Muslim)

Adapun di dunia, banyak maslahat yang bisa diperoleh umat Islam dengan menjalankan ajaran agama mereka. Dan untuk ibadah haji khususnya, ada beberapa contoh yang bisa kita sebut; seperti menambah silaturrahim, bertemu dengan ulama, menguatkan dan menunjukkan persaudaraan Islam sedunia dan hikmah lainnya.

Setiap orang yang pergi berhaji mencita-citakan haji yang mabrur. Haji mabrur bukanlah sekedar haji yang sah.  Mabrur berarti diterima oleh Allah, dan sah berarti menggugurkan kewajiban. Bisa jadi haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya diterima oleh Allah SWT.

Pertanda Haji Mabrur

Nah, bagaimana mengetahui mabrurnya haji seseorang? Apa perbedaan antar haji yang mabrur dengan yang tidak mabrur? Tentunya yang menilai mabrur tidaknya haji seseorang adalah Allah semata. Kita tidak bisa memastikan bahwa haji seseorang adalah haji yang mabrur atau tidak. Beberapa hal yang mendukung tercapainya kemabruran adalah :

Pertama: Harta yang dipakai untuk haji adalah harta yang halal. Karena Allah tidak menerima kecuali yang halal.

Kedua: Didasari Ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW . Paling tidak, rukun-rukun dan kewajibannya harus dijalankan, dan semua larangan harus ditinggalkan. Jika terjadi kesalahan, maka hendaknya segera melakukan penebusnya yang telah ditentukan.

Ketiga: Hajinya dipenuhi dengan banyak amalan baik, seperti dzikir, shalat di Masjidil Haram, shalat pada waktunya, dan membantu/peduli kepada saudara lainnya.

Keempat: Tidak berbuat maksiat selama ihram.

Maksiat dilarang dalam agama kita dalam semua kondisi. Dalam kondisi ihram, larangan tersebut menjadi lebih tegas, dan  jika dilanggar, maka haji mabrur yang diimpikan akan lepas.

Di antara yang dilarang selama haji adalah rafats, fusuq dan jidal. Allah berfirman,

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

"Katakanlah: "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al Baqarah : 97)

Rosulullah SAW bersabda,

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَأَبُو حَازِمٍ كُوفِيٌّ وَهُوَ الْأَشْجَعِيُّ وَاسْمُهُ سَلْمَانُ مَوْلَى عَزَّةَ الْأَشْجَعِيَّةِ

"Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Manshur dari Abu Hazm dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang berhaji dan tidak berbuat rafatsdan kefasikan niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". Abu 'Isa berkata; "Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan shahih. Abu Hazim orang Kufah yaitu Al Asyja'i, namanya Salman dan mantan budak 'Azzah Al Asyja'iyyah."(HR.Tirmidzi)

Rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram.

Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, apapun bentuknya. Dengan kata lain, segala bentuk maksiat adalah fusuq yang dimaksudkan dalam hadits di atas.

Jidal adalah berbantah-bantahan secara berlebihan.

Ketiga hal ini dilarang selama ihram. Adapun di luar waktu ihram, bersenggama dengam pasangan kembali diperbolehkan, sedangkan larangan yang lain tetap tidak boleh.

Demikian juga, orang yang ingin hajinya mabrur harus meninggalkan semua bentuk dosa selama perjalanan ibadah haji, baik berupa syirik, bid'ah maupun maksiat.

Kelima: Setelah haji harus menjadi lebih baik

Salah satu tanda diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah amalan tersebut. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya.

Ibadah haji adalah madrasah. Selama kurang lebih satu bulan atau 40 hari para jamaah haji disibukkan oleh berbagai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Untuk sementara, mereka terjauhkan dari hiruk pikuk urusan duniawi yang melalaikan. Di samping itu, mereka juga berkesempatan untuk mengambil ilmu agama yang murni dari para ulama tanah suci dan melihat praktik menjalankan agama yang benar.

Logikanya, setiap orang yang menjalankan ibadah haji akan pulang dari tanah suci dalam keadaan yang lebih baik. Namun yang terjadi tidak demikian, apalagi setelah tenggang waktu yang lama dari waktu berhaji. Banyak yang tidak terlihat lagi pengaruh baik haji pada dirinya.

Bertaubat setelah haji, berubah menjadi lebih baik, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal  yang lebih mantap dan  benar, kemudian istiqamah di atas kebaikan itu adalah salah satu tanda haji mabrur.

Orang yang hajinya mabrur menjadikan ibadah haji sebagai titik tolak untuk membuka lembaran baru dalam menggapai ridho Allah. Ia akan semakin mendekat ke akhirat dan menjauhi dunia.

Sekali lagi, yang menilai mabrur tidaknya haji seseorang adalah Allah semata. Jika tanda-tanda ini ada dalam ibadah haji anda, maka hendaknya anda bersyukur atas taufik dari Allah. Anda boleh berharap ibadah anda diterima oleh Allah,dan teruslah berdoa agar ibadah anda benar-benar diterima. Adapun jika tanda-tanda itu tidak ada, maka anda harus mawas diri, istighfar dan memperbaiki amalan anda.

Ibadah Haji untuk mendambakan titel haji/hajjah dan ibadah Haji semata-mata untuk wisata bisnis atau menjadikannya symbol pertobatan semu maka Mabrur akan jauh dan tidak terdapatkan.

Selamat jalan saudaraku, semoga Allah memudahkan serta menjadikan ibadah hajimu mabrur dan kembali ke tanah air untuk menjadi lebih baik.

-          Kiriman dari warga colomadu, Karanganyar


9 komentar pada “InsyaAllah…Menuju Haji Mabrur

  1. Haji mabrur menjadi idaman dan harapan ummat muslim. Namun Ibadah haji sangat rentan terserang penyakit riya’. Tidak sedikit orang yang melaksanakan haji hanya sekedar meraih prestise untuk mendapatkan legitimasi sosial dari masyarakat dan mungkinkah mereka berpredikat sebagai haji yang mabrur. Haji mabrur tidak hanya menjadikan pelakunya sebagai orang yang baik dari waktu ke waktu, tapi juga komitmen untuk memperhatikan nasib saudara -saudaranya. Semoga Allah Swt memberikan kemudahan saudara – saudara kami menjadi haji mabrur, Amin.

  2. Kami mengucapkan selamat datang kepa da jamaah haji 2010 semoga menjadi haji mabrur.dan tanda dari haji yg mabrur adalah meningkat amalannya atau lebih baik dari hari sebelum berhaji.

  3. @ahmad : haji dan menolong tetangga yang miskin…tidak bisa dipisah..perwujudan haji yang mabrur akan lebih care terhadap tetangga. khusyu beribadah harus dibarengi/dibuktikan dengan kuatnya kepedulian terhadap sesama dst….

    @nanik : amin ya robbal alamin

    @tufan : betul bangettt 🙂

    @ bunda : se7 abiss…amiin

  4. Haji mabrul biasanya ditandai dengan perubahan diri yang selalu kearah lebih baik dari sebelum menjadi haji. contoh:yang dulu shalatnya belang2 setelah jadi haji tidak belang lagi,yang dulunya bakhil setelah haji jadi dermawan dan sebagainya.

  5. Menurut saya haji itu adalah panggilan dan rejeki dari Allah. Berhaji bagi yang mampu, artinya mampu dalam segala hal.. terutama mampu dalam iman dan taqwa. Karena, kalau sudah Allah meghendaki, siapapun bisa pergi haji.. contohnya ada orang bisa naik haji karena di tanggung oleh pihak lain.. itu kan berkah.. akan tetapi ada orang naik haji karena ingin menaikkan status sosial atau sekedar jalan-jalan..
    Dan kita sebagai muslim hendaknya harus bercita-cita untuk pergi haji..
    Menolong tetangga yang miskin itu memang wajib, naik haji kan juga wajib.. Saya rasa Allah akan memperhitungkan apa yang kita lakukan.. tidak ada ceritanya beramal itu bisa merugikan.. dan Allah akan membalas dengan balasan yang lebih baik.. jika niat kita memang baik..

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.