Hidup Penuh dengan pilihan…..semoga kita tidak salah pilih

OperationSuatu saat di bulan desember 2008, saya tugas jaga sebagai residen orthopaedi di RS Fatmawati, RS fatmawati merupakan RS besar rujukan nasional di daerah besar pula, Jakarta selatan. Org Jakarta bangga kalo bilang rumah saya di Jakarta selatan , karena disinilah letak para borjuis,artis,pondok indahpun berada. Kayak org solo yg percaya diri kala nyebut rumahnya di solo baru meskipun dipinggirannya hehehe, kalo sy mah selalu bangga mengatakan rumah saya di semanggi, kulon tanggul hehehe,

Kembali lagi ke cerita saya …. Saat sedang enak2nya nonton acara TV, HP sy pun berdering, alamak selalu saja berdering tidak tepat waktu….baru seru2nya nonton TV. Segera sj saya ambil : dok ada pasien di IGD, kata perawat senior….emergency? Tanya saya…(maksud sy kalo tdk emergency sy selesaikan nonton dulu hehehe) , emergency dok,..pasiennya syok…sahut perawat tersebut…walah kalo yg berkata itu perawat senior, pasti memang benar emergency. Segera saja ku pakai pakaian jaga warna biru,..yg entah kapan terakhir kali aku cuci,….(hehehe saking sibuknya kadang baju inilah yg kelupaan di cuci, karena sering tertinggal di rumah sakit). Saat di emergency , perawat tadi sebut, saja pak yo, menunjukkanku pada seorang anak umur 10 th masih mengenakan baju SD, dengan kaki kanan hancur lebur. Berdasarkan anamnesis dari ayahnya saya dapatkan; 20 jam yg lalu saat pulang sekolah, ketika ada truk lewat, anak tersebut mengejar pikirnya mungkin mau menumpang,malah terpeleset dan kaki kanannya tergilas, masyaAlloh, vital sign…, teriakku, pak yo langsung bilang tensi 70/40 mmHg, nadi 120 lemah pernafasan 24 kali, walah… pikirku… kelamaan syok nih di perjalanan.

Resusitasi 2 jalur dengan RL 2 liter, pasang kateter, balance cairan, periksa darah rutin,.. teriakku, tapi sebenarnya kalaupun aku diam pun pak yo sdh bekerja seperti tadi, hehe, lama pengalamannya mungkin sama dengan umurku hidup didunia ini, jadi kadang saya memanggilnya prof yo hehehe, 15 menit kemudian vital sign stabil tensi dan nadi mulai normal, baru saya berpikir mau mengomelin orang tuanya mengapa baru setelah 20 jam sampe di rumah sakit, padahal kalo kurang dari 8 jam masih ada kemungkinan kakinya di sambung, setelah saya hitung NISSSA score, score untuk memutuskan apakah suatu jaringan bisa di sambung atau tidak, ternyata scorenya lebih dari 11, jadi saat ini ya cuma amputasi setinggi pahalah solusinya.

Orang tuanya bercerita bahwa kejadiannya di bogor, dia sudah bawa ke RS bogor tetapi kamar di sana penuh, akhirnya orangtuanya kesana kemari cari angkot yg bisa membawa anaknya ke Jakarta, ditambah kemacetan di Jakarta jadilah pasien tadi 20 jam baru nyampe Jakarta,Ya Alloh,….tak jadilah sy mau ngomel2 ke keluarganya.

Dengan berat hati saya mengatakan bahwa kaki anak tadi telah membusuk dan harus diamputasi, jika tidak akan terjadi infeksi dan kematian, kalo bahasa kedokterannya sepsis. Sebenarnya saya pun tak tega harus memotong kaki anak kecil yg masih lincah-lincahnya bermain…….Ya Alloh,..kalaupun ada yg mau menggantikan posisi saya saat itu mungkin saya memilih pulang. Tapi demi keselamatan anak itu pula,..bagaimanapun juga keputusan sulit harus di ambil. Sekarang tinggal meyakinkan org tua untuk mengambil keputusan yg sama bagi anaknya, demi keselamatan anaknya. Orang tuanya minta waktu untuk berembug dulu..sy pun menyadari ini bukan merupakan keputusan yg mudah di ambil. 1 jam kemudian bapak si anak menemui saya dia mengatakan menolak amputasi dan mau dibawa ke dukun patah tulang saja, walah pikirku saat itu…akhirnya ku kuatkan bapak lagi; bapak ini tidak sayang anak…kata saya….temperatur anak bapak sekarang sudah 38oC , jumlah darah putihnya sudah lebih dari 12.000, ini berarti proses infeksi mulai berjalan, kalo di tunda anak ini pasti mati ( astaghfirulloh….kadang2 sy mengeluarkan statemen yg mendahului kehendak Alloh, untuk menguatkan alasan2 logis dan mengalahkan alasan irrasional, ya Alloh ampuni aku), segera saja ku buka luka kaki anak itu; Masak luka kayak gini mau di bawa ke dukun, luka ini sudah busuk pak , harus di buang…,jelask

Bapak itu kelihatan ragu….aku pun mengerti saat ini saat yg sulit untuk memutuskannya, beban fisik (20 jam belum tidur) dan psikis mendera bapak itu….pak, percayalah pada saya pak…….saya itu sebenarnya juga tidak tega untuk memotong kaki anak bapak, kalaupun masih bisa saya sambung, pasti akan saya sambung, buat apa saya potong kaki orang, tapi saat ini kondisinya lain pak, kaki itu kalau tidak segera di buang infeksinya akan menyebar ke jaringan yang sehat…jelasku panjang lebar untuk meyakinkannya…akhirnya bapak itupun dengan pasrah setuju. Alhamdulillah bisikku, saat ini ku bertekad aku harus segera potong kaki anak itu, untuk menyelamatkan nyawanya. Siapkan untuk operasi prof yo…teriakku

Beberapa saat kemudian saat saya berjalan ke ruang operasi, HPku berdering lagi, prof yo telpon ada apa gerangan?...ada apa prof?,,,ini dok kondisi anak semakin turun…kesadarannya melemah,..temperatur 39 derajat, nadi 120, pernafasan 34, pemeriksaan ginjal menurun,.. walah sepsis pikirku,…ya sudah dorong saja ke ruang operasi, segera kita operasi..pintaku,….masalahnya dok saat ini saudara perempuan bapaknya datang, setelah rembugan lagi, bapaknya jadi tidak setuju di operasi….kurang ajar.,,umpatku….rasanya pingin ku injak saja keluarga yg baru datang itu, nyawa anak kecil kok di permainkan. Saya tidak bisa menyalahkan bapaknya….sering dalam kondisi seperti inilah keraguan memutuskan sering kali muncul, tergantung siapa lebih kuat memberi pengaruh…,

karena saya merasa tindakan saya berdasarkan disiplin ilmu yg saya pelajari saat ini adalah benar, maka saya akan mempertahankan pendapat saya meskipun kalo perlu berantem demi nyawa anak tersebut, segera banting setir saya bergegas balik ke IGD

Di IGD saya tidak peduli dengan keluarganya, yg saya cari bapaknya; pak ini berkenaan dengan kondisi nyawa anak bapak, bapak sudah jauh- jauh datang dari bogor cari pengobatan, mengapa bapak sekarang mundur,pak percayalah pada saya, tindakan bapak itu benar, kondisi anak bapak sudah semakin lemah, kita harus segera bertindak,mereka itu tidak tahu apa-apa, mereka itu baru datang, tdk tahu masalah sesungguhnya, jikalau anak bapak mati, bapaklah yang paling bersedih bukan mereka, percayalah pak, keputusan bapaklah yg benar,mereka tidak akan bertanggung jawab jika anak ini mati. Bapak tersebut memandang saya dengan mata berlinang, dan bibir bergetar; dok , anak ini saya serahkan sepenuhnya pada dokter, sy sudah tidak kuat lagi dok. Ya pak, bapak tunggu saja di sini dan berdoa saya akan bekerja sebaik-baiknya. Setelah semua beres saya lihat anak tersebut semakin lemah, produksi urinnya semakin berkurang, wah sepsis rek batinku,.prof..pasiennya segera dorong ke ruang operasi…pintaku

Di ruang operasi ketika sedang ganti baju steril, seorg perawat bilang ; ada keluarganya lagi yg mau ketemu,…lo yg mana lagi? tanya saya..ini paman2nya dok baru datang , tidak terima kalo kaki keponakannya di amputasi,,,waaah, persoalan belum selesai lagi…sendirian ku keluar ,tampak olehku di pintu kamar operasi 2 laki- laki berbadan kekar berjaket kulit hitam, yang satu berkumis lebat,…kayak preman saja pikirku….,

Yang berkumis berkata: bapak dokternya? Ya jawabku….., alasan apa bapak mau amputasi keponakan saya,…sy sudah nggak punya waktu lagi berdebat dengan org seperti ini, akhirnya aku bilang: bapak ini apanya ? baru datang sudah mau mempengaruhi tindakan, kondisi anak sudah semakin buruk, emangnya bapak bertanggung jawab kalo anaknya mati.kedua org itu terdiam, saat seperti ini biasanya banyak org sok pintar dan mengeluarkan pendapat, tetapi jika terjadi sesuatu dikemudian hari cepat2 lepas tanggung jawab

Akhirnya anak tersebut sudah mulai dibius. Jantungku berdegup mau copot, seperti berjudi, keluarga sudah menyerahkan sepenuhnya kepada saya, kondisi anak yang semakin jelek, jika operasi gagal pastilah semua keluarganya menyalahkan saya, salah mengambil keputusan. Bismillah,…akhirnya kulakukan amputasi segera.

Sehari kemudian kukunjungi bangsal ryan, dia sudah tertawa2 bermain-main, didampingi ayahnya. Gimana kabarnya pak? Ayahnya tertawa2, mana saudara2nya yang kemarin menolak amputasi? Sudah pergi semua…pikirku….akhirnya kutinggalkan ryan dengan senyum puas

Dalam hidup di dunia ini kita dihadapkan oleh pilihan – pilihan, kita tak tahu pilihan mana yang paling benar, tetapi bagaimanapun juga kita harus memutuskan untuk memilih, dengan tidak memilihpun itu juga merupakan suatu keputusan

Logika – logika dibangun untuk mempengaruhi seseorang dalam memilih, kita tidak tahu apakah pilihan itu benar atau tidak, hanya Allohlah yang menggenggam kebenaran, dan bagi kita hanyalah waktu yang akan membuktikan kebenaran pilihannya.

Dalam menjalani kehidupan ini Alloh telah membentangkan firmanNya, namun setan pun telah menyebarkan rayuannya, disaat ini tinggal mana pengaruh yang besar masuk ke hati

Jadi perlu bagi kita kondisi yg terus menerus dalam nenungan ilahi dan tetap dalam milleau / saudara – saudara yang terus beramar ma’ruf nahi munkar sehingga ketika waktu datang membuktikan , kita tersenyum puas berdiri diatas kebenaran. (Oleh dr. Gustom)


24 komentar pada “Hidup Penuh dengan pilihan…..semoga kita tidak salah pilih

  1. Subhanallah… Cerita yg bagus & bs jd pelajaran.
    Saya jadi ingin kenal dg dokter.
    Smoga Allah sll melindungi & mempermudah jln dokter.

  2. Membaca judulnya jadi ingat puisinya Robert FRost tentang dua pilihan judulnya”Jalan Yang Tidak Kutempuh” dan ini adalah puisi vaforit saya.dokter mau tau?liat aja FB ku ada ko….

  3. @Yasmina:sama dengan saya dong,teh dian juga paling anti deh periksa dokter jangankan dipegang2 ditanya2 aja ga mau hehe pokonya takut banget…….

Beri Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.