RESPON Edisi 244/XXIV 20/9 s.d 20/10-2010

respon-11-2010Tak berlebihan jika sosok muda yang berjiwa wirausaha, berani melakukan perubahan, mengorganisir, memenej, dan menanggung risiko sebuah bisnis atau usaha, amat jarang kita jumpai. Umumnya, mereka berpikir belum saatnya memulai usaha, mengingat tugas mereka sebagai seorang mahasiswa belum selesai dijalani. Soal materi, toh masih disokong oleh kedua orang tua yang siap siaga mengucurkan dana. Begitulah alasannya.

Lalu selepas lulus, apakah mereka akan berminat untuk membuka usaha? Jawabannya, belum tentu. Mereka
justru lebih memilih untuk mencari kerja ketimbang membuka lapangan pekerjaan. Takut menanggung risiko. Atau jika tidak, karena gengsi akan lulusan sarjana yang  telah mereka sandang. Memulai usaha jelas diawali dari nol, bahkan harus siap merasakan susah pahitnya ketika mengawali bisnis.

Sementara kerja di kantor dengan gaji yang menjanjikan dinilai lebih mengangkat wibawa mereka sebagai jebolan
universitas ternama. Terlebih, sekarang ini bekerja sebagai PNS gajinya terbilang  lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa terlalu menyortir energi mereka.

Hal ini tentu lain jika memulai bisnis sendiri. Di awal merintis usaha, pastilah akan menemui banyak kendala. Bahkan, sampai harus dilakukan seorang diri yang tentu tak mudah dilalui.

Berbisnis itu ibarat menanam pohon jati. Sekarang menanam, puluhan tahun kemudian baru bisa dipanen. Sekarang memulai usaha, baru beberapa waktu kemudian dapat dinikmati hasilnya. Maka, memulai bisnis selagi masih muda adalah pilihan tepat dan bijak.

Salah satu teori mengatakan bahwa sebuah negara idealnya memiliki wirausahawan minimal 2 persen dari seluruh jumlah penduduknya agar menjadi negara yang maju. Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 0,18 pelaku usaha mandiri dari 200-an juta penduduk. Jumlah yang sangat kecil. Padahal, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat melimpah.

Belum banyaknya kesadaran untuk berwirausaha di kalangan anak muda di Indonesia menjadi salah satu penyebabnya. Anak-anak muda di Indonesia lebih suka menjadi pekerja dan kurang berani mengambil tantangan untuk mandiri dan berwirausaha. Ini pula yang terjadi di kalangan mahasiswa.

Salah satu dosen UNS, Ir. Eddy Tri Haryanto, MP, mengatakan bahwa saat ini telah banyak program-program di berbagai perguruan tinggi yang diselenggarakan dalam rangka mewujudkan iklim wirausaha bagi masyarakat kampus. Di UNS sendiri, ada lembaga Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) yang kebetulan dikepalai oleh Eddy, berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha bagi kalangan terdidik adalah salah satu misi dari PPKwu. Namun, semua langkah ini tak ada artinya jika tidak ada sambutan yang positif dari mahasiswa.

Mulai Bangkit

Agaknya, kondisi tersebut perlahan mulai merangkak mengalami peningkatan ke arah yang cukup baik. Minat dan pelaku wirausaha muda di Indonesia mulai bangkit. Perkembangan organisasi dan komunitas pengusaha semakin pesat dari segi kuantitas anggota maupun jangkauan operasionalnya. Organisasi pengusaha yang mapan semacam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) semakin massif terlihat ‘wara-wirinya’.

Bermunculan pula organisasi bisnis yang bertaraf lebih sederhana berbentuk komunitas yang lebih fleksibel dan anggotanya merupakan pengusaha-pengusaha muda yang baru atau akan mulai merintis usaha. Sebut saja komunitas bisnis yang ada di Solo, Wirausaha Muda Indonesia (WMI). Meskipun tergolong baru, komunitas tersebut telah memiliki ratusan anggota dengan jenis usaha dan bisnis yang bermacam-macam. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa dan alumni baru dari berbagai perguruan tinggi di Solo.

Salah satu tokoh WMI adalah Rohmat Nur Cahyo. Alumni UNS ini memiliki usaha percetakan dan juga sekolah bisnis Bima Nusa Entrepreneur School. Selain itu, ia adalah investor salah satu bisnis media di Solo. Mantan Ketua Umum Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UNS ini memulai karirnya sebagai pengusaha selagi masih menjadi mahasiswa.

Hal yang sama juga dilakukan oleh pebisnis muda lain, Laili Rakhmawati. Lulusan jurusan Psikologi UNDIP ini juga memulai bisnis ketika ia baru menginjak semester 3. Sebelum resmi membuka butik online bulan Januari lalu, ia sempat merasakan betapa tidak mudahnya merintis usaha. Pun demikian, ia tetap optimis dalam berbisnis. Bahkan perempuan kelahiran 2 Mei 1988 ini terang-terangan mengaku tidak berminat menjadi PNS.

Yah, bagi mahasiswa yang menyadari hakikat kuliah sebagai wahana penuntut serta pembentukan karakter --bukan sebagai ajang semata-mata meraih angka-angka sebagai syarat sebuah pekerjaan-- maka fungsi ijazah tidak akan hanya sebatas kertas cantik yang didapat hari ini. Tidak mudah memang, menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha bagi khalayak muda, khususnya mahasiswa. Utamanya karena kendala klasik berupa cara berfikir mahasiswa untuk cepat lulus kuliah dan segera mencari pekerjaan. Lalu bagaimana dengan Anda?

*Artikel diatas adalah merupakan kumpulan dari beberapa artikel di Rubrik Laporan Utama yang disusun kembali oleh pengirim pesan ini.

Selengkapnya bisa baca Majalah RESPON edisi 245/XXIV 20 Oktober-20 Nopember 2010

Bisa beli di lokasi kajian Ahad Pagi atau hubungi cabang-cabang MTA terdekat atau kontak saudara Gie : 085228715459

*Ralat : RESPON Edisi 245/XXIV September-Oktober 2010 yg benar adalah RESPON Edisi 244/XXIV 20 September- 20 Oktober [maaf, yaakkk... :D *peace*]

Jazakumullah khairan katsiran.


7 komentar pada “RESPON Edisi 244/XXIV 20/9 s.d 20/10-2010

  1. jihad pagi bekerjasama dengan tv nasional,sehingga kami yang tidak terjangkau siaran radio dan tidak sempat ke warnet dapat tetap mengikuti pengajian ahad pagi di rumah

  2. Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.” (Ath Tholaq: 2-3)

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.