Dari Ulat Menjadi Kupu-Kupu

PUASA bermakna adalah puasa yang berakhir taqwa yang dapat digambarkan sebagai proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Bagi kebanyakan orang, ulat bulu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tetapi pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari.
Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain: ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

Metamorfosis sendiri adalah proses perubahan dari ulat menjadi kupu-kupu. Proses metamorfosis ini bisa dibilang cukup lama dan panjang, namun untuk keseluruhan semua prosesnya sederhana. Terdapat 4 tahapan proses dalam metamorfosis kupu-kupu ini, antara lain dimulai dari telur, kemudian menjadi ulat, selanjutnya menjadi kepompong dan terakhir barulah menjadi kupu-kupu.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Ke maha besaran Allah. Allah menciptakan segalanya penuh makna dan tidak sia-sia. Termasuk menciptakan ulat yang berproes menjadi kupu- kupu memberikan pesan tentang sebuah proses menjadi baik. Di dalamnya mengandung pesan pelajaran yang tentunya sangat berharga, tidak berlalu begitu saja tanpa makna.

Sebaliknya, proses itu menggelitik dan menggugah manusia untuk berfikir. Jangan cuek, tidak peduli dan acuh tidak acuh. Peduli adalah di antara tanda orang cerdas, orang menggunakan akal.

Firman Allah dalam Ali Imran 190-191.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang- orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia- sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka".

Proses itu menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya.

Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakni Al Quran dan Al Hadits.

Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kembali adalah ketika memasuki Ramadhan.

Bila kita masuk ke dalam kepompong Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan- ketentuan “metamorfosa” dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

Ulat yang semula suka merusak dengan melahap daun-daun, setelah mengalami proses metamorfosa, kini menjadi kupu-kupu yang indah. Terlahir sebagai makhluk yang indah. Hinggap pada bunga-bunga dan tidak merusak. Manusia yang terlahir dan menduduki posisi muttaqin setelah melalui proses Puasa Ramadhan hendaklah menjadi manusia yang indah mempesona seperti kupu-kupu.

Indah mempesona budi pekertinya, tutur katanya, tindakannya dan kebijaksanaannya. Mereka terlahir sebagai manusia baru setelah menempuh proses puasa sebulan suntuk. Puasa Ramadhan adalah salah satu proses untuk menjadi taqwa. Inti dari ibadah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Demikian juga dalam beragama, intinya adalah kemampuan menahan hawa nafsu.

Mengekang hawa nafsu untuk tunduk kepada kebenaran. Tanpa menundukkan dan mengekang hawa nafsu, mustahil manusia dapat menjalankan agama dengan baik.

Allah SWT berfirman,
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Naziiat [79] : 40- 41).

Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka syetan tidak akan mampu menggoda kita.

Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta adalah di antara akhlak yang harus diperhatikan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,hanya “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 228]

Betapa banyak orang berpuasa hanya mendapat lapar dan haus. Dan betapa banyak orang yang qiyamul lail hanya mendapat payah berjaga (payah).(HR Ahmad dan Al Hakim).

ULAR. Ular adalah gambaran mengenai puasa yang tidak bermakna. Walau sudah mengalami proses, tetapi tidak ada perubahan. Ular ditutupi sisik yang secara periodic mengalami pergantian kulit yang disebut molting atau eksdisis. Dalam bahasa awan sehar-hari dikenal dengan istilah nglungsungi. Pada bagian ventral terdapat satu baris sisik yang lebih lebar, dan dagu sampai anus, dan 1 atau 2 baris di ekor.

Ular memangsa tikus, ikan segar, katak, kelelawar. Setelah nglungsungi ular tetap memangsa tikus, ikan segar, katak, kelelawar. Tidak mengalami perubahan. Inilah gambaran puasa yang gagal. Puasa yang tidak bermakna.

Gagalnya puasa antara lain ditandai dengan masuknya tentara ghaib. Tentara ghaib yang menyerang itu bernama pasukan Tuli. Bisu, dan Buta. Serangan dan pukulannya amat hebat dan luar biasa. Pasukan TULI. Pasukan ini telah menyebabkan banyak orang tidak peduli. Tidak mendengar seruan adzan. Adzan (terutama adzan Maghrib dan Shubuh) yang saat bulan Ramadhan sangat ditunggu-tunggu dan didengar-dengarkan (Jawa : nguping) karena takut kalau ketinggalan/tidak mendengar, kini tidak lagi dipedulikan.

Saat Ramadhan begitu mendengar adzan terus bergegas dan bersegera buka puasa terus pergi ke masjid untuk shalat maghrib, Isak, shubuh dan seterusnya. Tiada panggilan sepenting adzan. Sambutan secepat atau setara panggilan telepon, sms, WA dan seterusnya.

Bisu dan buta, tidak mampu mengucapkan lafadz-lafadz Al Qura, tidak mampu membaca Al Quran. Tetapi tetap wasis membaca WA, sms, instagram. Tidak mampu melihat jalan menuju masjid dst. Semoga kita termasuk golongan orang yang berhasil dalam menjalankan ibadah tahunan, puasa Ramadhan. Menjadi manusia yang indah dan menarik pasca Ramadhan. (*)

Oleh : AA Gim (Guru SMA MTA Surakarta)