CUCI MATA..

proses-dosa

Mata adalah jendela. Jendela tempat masuknya stimulus (rangsangan, informasi) ke dalam diri manusia. Setelah Cuci Mata menjadi sebuah menu. Istilah lainnya respon (tanggapan). Bentuk-bentuk respon antara lain setuju, tidak setuju, tertarik, tidak tertarik, cocok, tidak cocok dan sebagainya.
Tahap selanjutnya setelah ada respon adalah action (tindakan). Mata menjadi perantara bagi kita untuk melihat dunia. Untuk melihat segala hal. Melalui mata, kita dapat mengetahui berbagai hal yang sebelumnya tidak kita ketahui. Tetapi melalui mata juga, kita bisa punya keinginan yang bisa menimbulkan akibat yang kurang baik.

Misal ada seorang laki-laki melihat wanita. Wanita ini kebetulan mendapat karunia dari Allah wajah dan body luar biasa. Bila menampakkan diri, maka laki-laki bakal merasa kecewa (eman-eman) kalau tidak memandang. Maka tertariklah (respon) lakilaki tersebut.

Dan, akhirnya memandanglah (tindakan) laki-laki ini kepada wanita tersebut. Proses ini berawal dari mata. Mata yang memandang. Maka mata adalah jendela. Mata untuk cuci mata. Pernah mendengar istilah ‘mencuci mata‘ ?. Cuci mata sering kita dengar dilontarkan oleh seseorang yang berniat bersantai dengan melihat – lihat apa saja.

Dalam beberapa pengertian, mencuci mata seringkali dimaksudkan sebagai ‘ngeceng’ alias nongkrong sambil melihat – lihat lawan jenis untuk menyenangkan dan memuaskan nafsu. Bila yang dimaksud dengan mencuci mata adalah hal seperti ini, maka sudah tentu jatuh pada perbuatan dosa dalam Islam.

Menurut ajaran Islam, memandang lawan jenis dengan maksud menikmati kecantikan atau ketampanannya adalah perbuatan dosa. Salah satu akibatnya adalah pergaulan bebas dan puncaknya adalah zina.

Mengumbar pandangan mata bisa diartikan sebagai upaya mengumbar hasrat atau keinginan nafsu seseorang. Tindakan ini menodai dan mengotori iman. Apabila hal ini dilakukan terus menerus, maka hati akan menjadi hitam total.

Pada tahap ini, sebuah perbuatan dosa, tidak lagi dirasakan sebagai dosa. Dosa tidak mempunyai arti apa-apa. Seperti noda hitam yang menempel pada kain hitam. Noda hitam itu tidak lagi kelihatan pada kain hitam.

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan perbuatan dosa maka akan tertitik dalam hatinya noda hitam jika ia menghilangkannya dan memohon ampun, dan diampuni, maka hatinya itu dibersihkan. Jika ia melakukan kelasahan lagi, maka bintik hitam itu akan ditambah sehingga bisa menutupi hatinya. [HR. Ibnu Mâjah, Tirmidzi [6] . Hadits ini dihasankan oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Tirmidzi.]

Hadits lainnya yang senada menyebutkan:

Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, ada titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat dan mencabut (tidak terus menerus berbuat dosa) serta memohon ampun, maka hati itu dibersihkan kembali dari titik hitam tersebut. Dan jika dia bertambah dalam berbuat dosa, maka bertambah pulalah titik hitam tersebut sehingga hati itu tertutup olehnya. Itulah yang dinamakan “Ar-Raan” yang Allah sebutkan di dalam kitab-Nya (yang artinya) “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (QS. Al-Muthaffiin : 14). [HR. Tirmidzi, ia menshahihkannya, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban di dalam shahihnya di Al-Hakim dan lafadh itu baginya].

Puncaknya, mata juga bisa menjadi sarana untuk berbuat zina. “Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.”(HR. Ahmad)

Zina mata disebutkan pertama kali karena dari mata akan menjadi dasar semua perbuatan zina hati, kaki dan tangan serta kemaluan. Kemaluan akan menjadi burhan (bukti) ada tidaknya suatu tindak perzinaan. Artinya kalau sudah sampai pada tahap penggunaan bagian tubuh yang satu ini, maka benarbenar telah terjadi perzinaan.

Semua berawal dari pandangan mata. Di antara solusi menghindari perzinaan adalah menghindari cuci mata atau menahan pandangan.

“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” ( Al Qur’an Surat An – Nur (24): 30)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau puteraputera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budakbudak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An Nur 31)

Siapa yang dapat menjaga kemaluan (baca: tidak berzina), dan menahan pandangan (pandangan nakal) maka akan merasakan manisnya iman dan dijamin masuk surga.

“Jaminlah Aku dengan enam perkara, dan Aku akan menjamin kalian dengan surga: Jujurlah (jangan berdusta) jika kalian berbicara; tepatilah jika kalian berjanji; tunaikanlah jika kalian dipercaya (jangan berkhianat), peliharalah kemaluan kalian; tahanlah pandangan kalian; dan tahanlah kedua tangan kalian.” (HR. Ahmad no. 22757. Dinilai hasan lighairihi oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth).

”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam AlMustadrak no. 7875).

Terjadinya pandang memandang (Tindakan) ini adalah karena adanya faktor Niat (N) dan Kesempatan (K). T = N + K.

Ada niat, tidak ada kesempatan, maka tindakan tersebut akan terhalang. Sebaliknya walau ada kesempatan, tetapi kalau tidak ada niat, maka tindakan itu tidak bakal terjadi. Perlu dicatat, terkadang sebenarnya tidak ada niat. Tetapi kok ada wanita yang memamerkan karunia Allah. Berpakaian mini, ketat, tipis dan seksi. Tubuhnya menonjol sana sini.

Maka seseorang yang semula tidak ada niat, niatnya tergugah secara tiba-tiba. Secara mendadak. Ini berarti bahwa sebuah perbuatan dosa tidak berdiri sendiri. Terkadang ada faktor X yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan dosa. Karena itu setiap muslim hendaknya menjaga saudaranya agar tidak terpancing dan terpicu melakukan dosa.

Jangan sampai ada seseorang melakukan dosa karena dirinya. Guna mencegah berlangsungnya pandang memandang yang bisa menjurus kepada perbuatan dosa, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak (pihak laki-laki dan wanita).

Para wanita hendaklah berpakaian secara syar’i. Tidak ketat dan tidak tipis. Di lapangan masih banyak dijumpai wanita berjilbab. Jilbabnya dipadu dengan tipis dan ketat, memakai kaos, celana jean (ketat), celana ketat, jilbab kecil (tidak menutup dada dan punggung), betis kelihatan dan sebagainya.

Wanita yang demikian ini tidak akan mencium bau surga. Dia berpakaian tetapi hakekatnya telanjang. Mendapat nikmat dari Allah berupa harta, kemampuan membeli kain cukup, tetapi bagaikan orang miskin (tidak mampu membeli kain cukup guna menutupi tubuhnya).

Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).

Allah berfirman dalam QS Al Ahzab 59. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Ahzab 59)

Para wanita hendaklah berbicara secara wajar, tidak dibuat-buat. Ini penting dilakukan agar tidak membangkitkan niat lawan bicaranya melakukan pelecehan, tindakan nakal dan sebagainya. Selain itu para wanita hendaklah berusaha di rumah dan menahan diri untuk berkieliaran di tempat umum kecuali ada kepentingan. Allah berfirman dalam Al Ahzab 32-33: Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidak lah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, (QS Ahzab 32)

Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. Adapun yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong terhadap wanita, seperti melakukan pelecehan seksual, mengganggu, melakukan zina dan sebagainya.

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS Ahzab 33).

Maksudnya: Isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara’ . Perintah ini juga meliputi segenap mukminat. Yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum Nabi Muhammad s.a.w.

Dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam. Ahlul bait di sini, yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah S.A.W.

Wanita yang suka ngeceng, mejeng, nongkrong atau apapun istilahnya yang bermakna memamerkan diri, mencari perhatian lawan jenis berarti menarik pihak lain, memberi kesempatan pihak lain untuk melakukan pelanggaran syara’ adalah tidak baik.

Wanita muslimah lain dengan wanita lain. Berbeda dengan wanita lain. Kalau sama, berarti tidak berbeda. Maka dari itu wahai wanita muslimah, berbedalah. Berbeda dalam segala hal: berpakaian, bertindak, berkata, penampilan dan sebagainya.

 

Oleh : AAGIM (Guru SMA MTA Surakarta)