Cita-Cita Besar Seorang Pejabat Sholih Di Zaman Modern.

Segala puji hanya untuk Allah SWT, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya. Salam untuk seluruh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Baru saja bangsa Indonesia melaksanakan PILKADA serentak yang akan menghasilkan pemimpin-pemimpin pemerintahan yang akan menjadi  pemimpin pemerintahan  dan sekaligus menjadi pelayan masyarakat dalam masa jabatan selama 5 tahun.

Dari zaman ke zaman, jabatan untuk menjadi pemimin masyarakat, pemuka masyarakat, penguasa masyarakat, pembimbing masyarakat, atau hanya sekedar sebagai pengatur masyarakat menjadi sesuatu yang hangat untuk diperebutkan.

Pada tataran praktis belum ada standarisasi dan juga sertifikasi keahlian bagi orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi pejabat, baik sebagai pejabat eksekutip, legislatip atau yudikatif. Mungkin standard kelulusan sudah dapat dianggab memadai apakah itu ijazah SLTA, sarjana S1, sarjana S2 atau sarjana S3, namun lebih jauh berkaitan dengan kepiawaian dalam memimpin dan membimbing serta melayani dan mengayomi masyarakat belum masuk dalam sertifikasi yang jelas.

Keterbatasan kualitas moral pada diri seseorang, maka akan tidak mungkin mendidik anak buah dengan kwalitas moral yang lebih tinggi dari dirinya masing-masing. Demikian pula keterbatasan kwalitas moral yang dimiliki oleh seorang pejabat akan mustahil menghasilkan masyarakat yang bermoral baik jika para pemimpin belum memiliki kepribadian  moral yang berkwalitas tinggi.

Bila seorang pejabat sudah memiliki wawasan moral yang tinggi maka boleh jadi akan mengarahkan seluruh yang dipimpinnya kepada moral yang tinggi pula. Allah menyebutkan tentang kwalitas moral yang tinggi sebagaimana dalam firman-NYa.

 

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ ﴿٤٥﴾ إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ ﴿٤٦﴾

  1. Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya`qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.
  2. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.(QS 38 Shaad ayat 45,46)

 

Ayat tersebut memberi tahu tentang capaian tertinggi yang harus digapai oleh umat manusia yang hidup di muka bumi agar kehidupan di dunia dan di akherat selamat dan bahagia. Orang dapat saja senang dan mewah di dunia namun berakhir dengan susah di akhir hidupnya atau juga susah hingga di akherat kelak.

Orang yang sombong kepada Allah dan mengabaikan belajar tuntunan dari Allah akan sulit mencapai kebahagiaan di akherat. Kesenangan dan kemewahan yang dicapai di dunia dipastikan akan menjadi  kesengsaraan di akherat, sebagaimana firman Allah

 

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٨٣﴾

  1. Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS 28 Al Qashash ayat 83)

 

Al-Quran banyak mengisahkan tentang pejabat-pejabat publik di jaman lampau yang gilang gemilang dalam capaian-capaian pembangunan materiil, namun tidak meyakini tentang adanya kehidupan akherat.  Mereka semua sukses dan berjaya serta di puja-puja di dalam kehidupan dunia, namun mereka akan susah di akherat kelak.

Ketimpangan yang terjadi, gap yang masih menganga lebar, baik dalam masalah kekayaan harta dan keahlian dalam menggunakan ketrampilan berkarya  ilmu dunia,  serta gap yang sangat jauh pada tingkat pemahaman agama yang benar di tengah-tengah masyarakat, semua adalah sesuatu yang harus diselesaikan dengan baik, untuk dapat mengejar tingkat masyarakat yang dapat mencapai keadilan dan kemakmuran.

Gambaran praktis sebuah negri yang masyarakatnya memiliki keyakinan yang kuat kepada kehidupan akherat, maka harus diatur hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan moral yang baik serta menghapus segala aktifitas masyarakat yang dapat merusak keimanan dan ketaqwaan.

 

Negri tanpa NIGHT CLUB, orang tidak lagi suka mengunjungi pesta-pesta musik dan joget kerena manusianya sudah rajin melaksanakan sholat malam dengan khusyu’, kenikmatan yang diperoleh dengan sholat malam, jauh lebih nikmat dari kesenangan yang dirasakan oleh para pencinta NIGHT CLUB.

Negri tanpa MINUMAN KERAS, banyak pedesaan dan perkotaan yang saat ini masih beredar minuman keras. Dirubah menjadi negri yang dipenuhi dengan masyarakat yang suka ‘itikaf di masjid-masjid Allah. Manusia merasa bahagia dengan mengadukan kesusahan dan kegundahannya dengan melakukan ‘itikaf di masjid.

Negri tanpa NARKOBA, narkoba biasa dijadikan tempat rekreasi bagi orang kaya untuk relaksasi dengan barang haram. Dirubah dengan lembaga-lembaga penyantunan orang-orang miskin. Orang-orang kaya yang memiliki sisa uang yang banyak diarahkan untuk menggunakan hartanya dalam membantu para fakir miskin dan orang lemah, maka dengan membantu orang miskin akan terasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.

Negri tanpa tipu menipu takaran dan timbangan, dirubah menjadi negri yang dipenuhi oleh orang-orang yang rajin berinfaq fi sabilillah dan berzakat. Orang mengurangi timbangan merasa untung dengan cara-cara dosa tersebut. Padahal dengan melebihi sedikit pada timbangan saat berjual beli akan menjadi amal sholih yang membawa bahagia di dunia di alam kubur dan di akherat kelak.

Negri tanpa Kemalasan, sistem keuangan riba akan menghasilkan orang-orang yang malas, bila sebuah masyarakat dapat menjauhi sitem keuangan ribawi maka akan tumbuh masyarakat yang produktip. Allah akan menyuburkan sedekah dan memusnahkan riba’. Masyarakat yang malas diantaranya disebabkan karena banyaknya tersebarnya riba’ di tengah tengah masyarakat.

 

Orang awam tidak boleh lagi salah dalam memilih pejabat. Bila seorang pejabat tidak memiliki keimanan kepada Allah dan hari akhirat, sampai kapanpun ide-ide besar tidak akan pernah muncul. Dan tidak akan pernah berhasil memobolisasi masyarakat untuk membangun negri dengan semangat kerja keras dan ikhlas.

Iman dan taqwa bukan penyebab ketertinggalan sebuah negri dengan negri-negri di sekitarnya, namun ketika segala mesin-mesin perusak moral dibiarkan leluasa merusak moral masyarakat. Sebesar apapun cita-cita luhur ditanamkan, yang terjadi dalam kenyataan adalah sebuah pemborosan yang sangat besar. Hanya orang-orang yang beriman dan bertawa yang mampu membangun dengan tingkat effisiensi yang tinggi.

Jangan pernah menuduh bahwa Islam sebagai sumber ketertinggalan, Allah SWT sendiri telah mendorong manusia untuk berbuat sesuatu yang besar. Sebagaimana firmanNYa.

 

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ ﴿٣٣﴾

  1. Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.(QS 55 Ar Rahmaan 33)

 

Ide-ide besar yang ada di dalam benak para pemimpin yang sholeh dan sholihah, akan dapat  terwujud bila di tebar di tengah-tengah masyarakat yang sudah siap. Siap dalam ilmunya, imannya, taqwanya dan siap dalam mewujudkan cita-cita besar , kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat dengan suasana yang dikatakan modern di masing-masing zaman. Wallohu a’lam