Bonek:Sebuah Potensi Salah Ekspresi

icon-bonek-mtaPada tanggal 23 Januari 2010, sekitar 4000 bonek yang berangkat dari Surabaya ke Bandung via Solo melakukan tindakan anarki berupa pelemparan batu dan penganiayaan terhadap sejumlah orang. Selain itu tim yang akrab dengan tindakan hooliganisme ini juga melakukan tindakan kriminal penjarahan, pemukulan terhadap wartawan Antara, Hasan Sakri Ghozali, anggota Brimob, Briptu Marsito, perusakan stasiun Purwosari Solo dan stasiun lainnya, perusakan rumah warga, serta tindakan-tindakan tidak terpuji lainnya.

Satu bonek dilaporkan meninggal karena terjatuh dari atap kereta api Pasundan yang ditumpanginya, beberapa bonek mengalami keadaan kritis, dan puluhan orang dari pihak bonek dan penduduk di pinggiran rel kereta api mengalami luka-luka. Kerugian besar juga dialami oleh pihak Kereta Api Indonesia karena bonek melakukan perusakan terhadap kereta api, stasiun, dan menolak membayar penuh, serta menaiki kereta api melebihi kapasitas. (wikipedia)

Bonek sebetulnya mempunyai potensi yang luar biasa. Bondo nekat. Sebuah bentuk keberanian, tekad dan semangat serta ketawakalan yang belum terarahkan saja. Sebuah potensi yang belum tersalurkan dengan benar. Setiap orang yang menginjak usia muda memiliki jiwa yang membara untuk menunjukkan eksistensinya. Ada hadis yang mafhumnya bukanlah pemuda yang bangga dengan berkata.... ini bapak saya. Tapi seorang pemuda adalah yang bangga dengan berkata inilah saya.

Demikianlah psikologi yang ada pada diri bonek. Sebab lawan mereka bukan siapa-siapa melainkan sesama bonek sendiri. Mereka hanya ingin menunjukkan ini lho aku. Akulah yang paling bonek. Sebagaimana sekelompok pejuang yang tentunya ingin tampil sebagai pemberani. Hanya keberanian yang ditunjukkan bonek adalah keberanian yang belum tersalurkan kalau tidak mau dikatakan salah kaprah.

Nah, sebetulnya kalau potensi keberanian, tekad dan ketawakalan yang ada pada diri bonek ini sudah teridentifikasi, para orang tua (pemerintah, aparat keamanan, dan tim sepakbola) harus bisa memenejnya, mengarahkannya, mengakomodasinya sehingga tersalurkan dengan baik dan tidak menimbulkan hal-hal yang kontraproduktif. Misalnya saja dengan pengorganisasian yang sistemik, merubah karakter supporter yang seportif, dan lain sebagainya.

Faktor kedua, yang menyebabkan mereka anarki adalah stigma negatif yang ada pada diri mereka. Karena stigma itulah mereka justru ingin menunjukkannya. Semakin dilabel dan diberitakan, para Bonek semakin bangga menunjukkan kenekatan dan anarkistisnya. Maka, di sini peran media sangat besar.

Cobalah direview kembali sejarah bonek, sebetulnya mereka pun pernah juga menunjukkan sportivitas. Bonek bertindak tidak selalu anarkis ketika kesebelasan Persebaya kalah. Tahun 1995, saat Ligina II, Persebaya dikalahkan Putra Samarinda 0 - 3 di Gelora 10 November. Tapi tidak ada amuk Bonek sama sekali. Para Bonek hanya mengeluarkan yel-yel umpatan yang menginginkan pelatih Persebaya mundur. Saat masih di Divisi I, Persebaya pernah ditekuk PSIM 1 - 2 di kandang sendiri. Saat itu juga tidak ada aksi kerusuhan. Padahal, jika menengok fakta sejarah, hubungan suporter Persebaya dengan PSIM sempat buruk, menyusul meninggalnya salah satu suporter Persebaya dalam kerusuhan di kala perserikatan dulu.

Faktor ketiga, Bonek bisa begitu anarkistis karena faktor godaan situasi kerumunan. Massa berkerumun cenderung berpotensi mudah diprovokasi. Karena yang namanya kerumunan, di mana pun, apalagi seperti Bonek, mereka dengan mudah akan terpancing mengembangkan perilaku satu orang memulai yang lain ikut-ikutan.Untuk itu, pendekatan sosial yang diperlukan adalah rekayasa kultur dan rekayasa teknis agar ulah para Bonek ini bisa direduksi. Rekayasa kultur tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek.

Mengantisipasi dendam kesumat

Nampaknya insiden ini akan menimbulkan dendam kesumat utamanya bagi bonek dan warga Solo yang direpresentasikan oleh Pasopati. Nampaknya warga solo kemarin belum puas dengan aksi balas dendam yang mereka lakukan. Dan aksi balas dendam itu juga menyisakan dendam bagi bonek. Terlihat di televisi di acara penguburan salah seorang anggota bonek yel-yel umpatan kepada wong solo. Dan entahlah .... kenapa Solo ..... meski di tempat lain mereka melakukan aksi anarkisme dan mendapatkan balasan. Kini dendam itu bagaikan sebuah bisul. Tinggal tunggu waktu kapan meletusnya.

Nah, kalau hal ini sudah bisa diprediksi, maka jauh-jauh harus sudah diantisipasi. Misalnya diadakan pengarahan-pengarahan yang intensif persuasif kepada para bonek. Ini bisa dilakukan utamanya oleh Klub Persebaya sendiri sebagai idola mereka, pemerintah dan aparat keamanan. Tujuan utamanya adalah merubah stigma negatif yang telah disandangnya, dan mengganti dengan jargon yang lebih baik dan simpatik.

Saya yakin kebanyakan temen-temen bonek ini agamanya Islam. Maka perlu diadakan pengajian Bonek, nah di sini peran MTA Surabaya, sebagai lembaga dakwah dituntut untuk aktif membuka pembinaan pengajian bagi para Bonek.

Ingatlah sobatt.. sebuah anarkis kepada siapapun dalam bentuk apapun, memanjakan sebuah dendam, usaha memprovokasi dan fanatisme yang salah sasaran adalah kejahatan tidak dibenarkan oleh agama manapun.

Semoga bermanfaat :)

Penulis : Tri Harmoyo



15 komentar pada “Bonek:Sebuah Potensi Salah Ekspresi

  1. tulisannya sangat bagusdan membangun, juga sangat bijak dengan memandang masalah ini dr sudut pandang positif,
    tapi ada sedikit ulasan yg agak kurang realistis jika mengadakan “pengajian bonek” bukanya lebih baik diberi nama lain walaupun org2nya sama… karena citra yg muncul saat menggunakan nama bonek sudah terlanjur buruk,
    ada kritik juga sedikit dr saya… pada akhir tulisan diatas ditulis ” kejahatan tidak dibenarkan oleh agama manapun” bukankah lebih baik jika kita menggunakan kalimat “kejahatan tidak dibenarkan oleh agama islam” karena jika menggunakan kata2 diatas maka dengan tidak sengaja kita telah mngakui bahwa ada agama lain selain islam…,
    demikian sedikit comentar saya, maaf jika kurang berkenan… trimakasih… Gusto bagus putra

  2. aku setuju dengan ide pengajian “bonek”.dengan adanya bimbingan yang benar para bonek pasti akan copot dari istilah “RUSUH” yang selama ini sudah melekat dengan mereka.

  3. Istilah “Bonek ” sudah merambah dimasa anak, pemuda dan dewasa, sering kita jumpai bahwa jika ada kata-kata “bonek ” asumsi kita cenderung ke anarkis, usil dan sejenisnya dan hal yang terpetik dibenak kita, mereka beragama Islam.
    Hal ini memang tugas kita bersama dalam rangka meluruskan istilah yang terlajur berkonotasi buruk tersebut yang mampu memotivasi diri untuk berbuat, mari kita awali dari diri kita, anak-anak kita, saudara-saudara kta dan masyarakat kecil yang ada dilingkungan kita dijak untuk memahami amar ma’ruf nahi mungkar.

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.