“Bisnis” sing ora RUGI tur mesti BATI kuwi Ngaji

kenapa-ngaji-mta

Puji syukur alhamdulillah kita diberi kenikmatan oleh Allah mengaji. Dengan mengaji orang jadi mengerti ayat-ayat  firman Ilahi dan hadits-hadits sabda Nabi.

Nikmat hakiki yang tak ternilai jika dibandingkan harta benda, derajat pangkat dan keduniaan yang semu dan sesaat.  Allah SWT Berfirman :

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَ

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi," (QS. Fatir 35: Ayat 29)

Ayat di atas menerangkan tentang orang-orang yang mengharapkan perniagaan yang tiada akan merugi. yaitu :

  1. Orang-orang yang selalu membaca (mengaji) kitab Allah
  2. Orang-orang yang mendirikan shalat
  3. Orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah

Di dalam AlQu’ran, Allah SWT kerapkali memotivasi hambaNya untuk beramal sholih dengan istilah bisnis, jual beli, atau perniagaan. Sebagaimana ajakan manusia untuk berbisnis di dunia, selalu menarik dengan iming-iming dan memikat dengan keuntungan yang berlipat.

Janji-janji pun diobral hingga orang lain percaya dan bergabung dengan bisnisnya. Padahal janji-janji itu belum tentu ditepati, keuntungan berlipat pun belum tentu didapat, akan tetapi kebanyakan manusia lebih tertarik dengan tawaran bisnis yang fana. Tawaran bisnis Allah pun diabaikan. Padahal Allah adalah Dzat yang tiada pernah mengingkari janjiNya.

اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (QS. Ali ‘Imraan : 194)

Bagi orang-orang yang beriman, tentu lebih percaya dengan janji-janji Allah. Bahwasannya bisnis denganNya tiada akan pernah merugi. Modal awal pun Dia berikan dengan cuma-cuma kepada seluruh manusia, dengan jumlah tak terhingga.

وَاٰتٰٮكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْـتُمُوْهُ  ۗ  وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا   ۗ  اِنَّ الْاِنْسَانَ لَـظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahiim : 34)

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ  لَا تُحْصُوْهَا ۗ  اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nahl : 18)

Pada ayat 34 surat Ibrahim, Allah menerangkan bahwa segala keperluan dan segala apa yang diharapkan manusia telah diberikan. Maka jika manusia menghitung-hitung nikmat yang telah Allah berikan, pasti tidak akan mampu. Sedemikian banyak dan besarnya karunia yang telah diberikan Allah, bukan menjadikannya semakin bersyukur, tunduk dan patuh, akan tetapi kebanyakan manusia justru mengingkarinya. Ini kedholiman hamba kepada Tuhannya yang mengakibatkan kerugian pada diri mereka sendiri.

Jika manusia sadar dari kedholimannya karena selama ini tidak bersyukur kepada Allah, kemudian bertaubat, menjadi hamba yang bersyukur, maka Allah senantiasa terbuka pintu taubatnya. Di akhir ayat 18 surat An Nahl, Allah menyatakan sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang.

Selagi nikmat waktu dan kesempatan masih diberikan oleh Allah, merilah kita gunakan sebaik-baiknya modal besar yang ada pada diri ini untuk berbisnis dengan Allah, bisnis yang tiada pernah merugi dengan keuntungan berlipat-lipat, untung di dunia sampai di akherat.

Pertama, Mengaji

Mengaji adalah gerbang ilmu, yang semula tidak tau menjadi tau. Terlebih pada pengetahuan pokok yang harus diketahui sehingga tidak tersesat dalam kegelapan. Al Qur’an adalah cahaya yang mengantarkan manusia dari kegelapan menuju kehidupan terang benderang.

Tanpa mengaji Al Qur’an sudah dipastikan orang akan hidup dalam kesesatan. Al Qur’an berisi perintah dan larangan. Dengan mengaji jadi mengerti mana perintah-perintah Allah yang harus dilaksanakan dan larangan-laranganNya yang harus dihindari. Orang yang mengaji akan memiliki pribadi yang bertaqwa dan berakhlak mulia.

Kedua, mendirikan Shalat

Shalat adalah cirikhas utama seorang muslim. Menjadi pembeda orang Islam dengan yang kafir. Nabi Muhammad SAW bersabda :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: بَيْنَ الرَّجُلِ وَ بَيْنَ اْلكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ. الجماعة الا البخارى و النسائى، فى نيل الاوطار

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340]

Setelah mengaji barulah mengerti tentang tata cara shalat menurut tuntunan Rasulullah SAW. Tetapi bukan sekedar dijalankan saja sebagai ritual ibadah kepada Allah, melainkan juga harus didirikan atau ditegakkan.

Yang berarti shalatnya membekas dalam diri mewarnai segala sendi kehidupan, menjaga manusia dari mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Allah SWT berfirman :

 اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. [QS. Al Ankabuut : 45]

Ketiga : Menafkahkan harta di jalan Allah

Allah telah memberikan rezeki berupa harta benda yang bisa dinikmati. Tapi bagi orang yang beriman, kenikmatan yang diterima bukan semua miliknya. Ada sebagian yang dititipkan oleh Allah agar disampaikan kepada yang berhak. Itulah harta yang diinfakkan di jalan Allah.

Kebanyakan manusia terlena dengan kenikmatan harta benda yang berlimpah sehingga melupakan sang Maha Pemberi Nikmat. Dihambur-hamburkannya harta menuruti keinginan syahwat menggapai kenikmatan sesaat, kemudian mengantarnya dari kehidupan yang penuh dengan kemilau menjadi galau, terombang-ambing dalam berbagai permasalahan kehidupan hingga kelak dicampakkan Allah di neraka. Na’udzubillah.

Alhamdulillah, dengan mengaji kita jadi mengerti bagaimana memenej harta yang telah Allah berikan. Dengan banyak beramal dengan harta bukan menjadikan manusia semakin miskin, justru menjadi semakin barokah.

Hati pun semakin tentram karena menyadari bahwa harta yang dimiliki sekedar titipan dari Allah, sehingga tiada pilihan lain ketika Allah memintanya, dengan ringan tangan  akan ia ulurkan meski dalam keadaan lapang maupun sempit. Allah SWT berfirman :

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ  وَالْاَرْضُ ۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

  1. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

  1. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Qs. Ali Imraan : 133-134)

Semoga dengan bergabung di Majlis ini, kita bisa mengikuti kajian dengan istiqomah, menjaga shalat dengan baik sehingga terjaga pula akhlaq dalam kehidupan sehari-hari, dan bisa turut andil menginfakkan harta di jalan Allah melalui pos-pos yang telah disediakan.

Ini semua merupakan ladang amal untuk berbisnis dengan Allah SWT, dan semoga Allah memberikan kepada kita semua keuntungan yang berlipat di dunia dan di akherat. Aamiin.

 

Madiun, 31 Oktober 2018
MoyoEmangMoy