Bersatu dalam Perbedaan

Bersatu-Dalam-Perbedaan---MTA

(Mimbar Jumat - Solopos, 15/02/2019) Euforia demokrasi melanda seluruh pelosok negeri. Media cetak, media elektronik dan media sosial diwarnai dengan berita-berita terkait pemilihan Presiden dan pemilihan anggota legislatif yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019. Sangat disayangkan bahwa kegembiraan tersebut disertai dengan terbelahnya masyarakat menjadi dua kubu yang saling memojokkan dan mendeskreditkan satu terhadap yang lain.

Saling mengejek, saling mengolok, dan saling menghujat melalui akun media sosial. Berita bohong alias hoaks, ujaran kebencian, atau hate speech dan kampanye hitam (black campaign) yang dilarang UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ternyata masih menyebar setiap saat.

Suasana seperti ini bila tidak terkendali akan membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif adalah agenda rutin bangsa Indonesia lima tahun sekali dalam menjalankan roda demokrasi.

Agenda rutin ini memang sangat penting dalam menentukan pemerintahan lima tahun berikutnya, tetapi harus dipahami bahwa sifatnya hanya sementara, jangan sampai merusak komitmen bersama bangsa ini untuk tetap bersatu dalam kebhinekaan.

Kepentingan bangsa harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi maupun golongan. Prinsip itu harus berlaku untuk kepala negara, aparat pemerintahan, maupun rakyatnya. Kita bisa berkaca kepada ucapan Presiden kedua Filipina, Manuel L. Queson (1935-1944)

Quezon berkata : "My loyalty to myparty ends where mya loyalty to mycountry begins." Kesetiaanku kepada partai politik berakhir, saat kesetiaanku kepada negara dimulai. Artinya seorang kepala negara harus menaruh kesetiaan kepada bangsa diatas kepentingan partai politik dan golongan manapun. Kesetiaaan kepala negara kepada bangsa memungkinkan dia mengayomi semua golongan, termasuk para pendukung lawan politik.

Sikap yang adil kepada semua golongan akan meyejukkan suasana hati kedua kubu yang terbakar emosi berbulan-bulan sebelum pemilihan presiden. Rakyat pendukung masing-masing kubu harus mengadopsi prinsip yang sama.

Setelah pemilihan presiden selesai dan jelas hasilnya, calon presiden yang didukung menang atau kalah, kita harus kembali kepada keadaan semula sebelum dimulainya kampanye pemilihan presiden yakni hidup rukun, damai dan bersatu dalam kebinekaan.

Dalam falsafah jawa ada istilah menang ora umuk, kalah ora ngamuk. Artinya bila menang tidak menyombongkan diri, tetap taat kepada aturan, tidak merendahkan lawan politik sebagai warga negara kelas dua.

Bila kalah tetap mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuat anarkis. Kita harus ingat bahwa negara ini kita bangun diatas komitmen bersama untuk bersatu dalam perbedaan demi mencapai cita-cita bangsa adil, makmur dan sejahtera.

Tetap bersatu meskipun beda haluan politik, suku, bahasa, agama maupun beda warna kulit. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Allah mengingatkan kepada orang-orang beriman untuk senantiasa memegang teguh tali agama Allah, yakni Islam dan melarang bercerai berai (QS.Ali 'Imran: 103)

Kesungguhan kita mengamalkan tuntunan Islam itulah yang akan bermuara pada persatuan dan kesatuan umat. Persatuan dan kesatuan itulah yang menghadirkan kekuatan untuk mengalahkan lawan.

Pelanggaran terhadap tuntunan Islam itu pula yang akan menyebabkan barisan umat Islam bercerai berai, lemah dan akhirnya runtuh. Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa Islam dan umat Islam pernah berjaya di Andalusia, Eropa selama lebih dari 600 tahun.

Peninggalan sejarah kejayaan itu masih bisa dilihat dibeberapa wilayah di Kota Cordoba, Spanyol. Pada saat itu, meskipun hampir seluruh penduduknya beragama Islam dan para pemimpinnya juga Islam, karena mereka meninggalkan tuntunan Islam alias tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kekuatan itu dicabut Allah.

Mereka menjadi lemah dan akhirnya digilas oleh kekuatan asing. Laa haula walaa quwwata illa billah. Tidak ada daya untuk menghindari mudarat dan tidak pula ada kekuatan untuk mengambil manfaat, kecuali semuanya milik Allah. Hanya kepada Allah hendaknya bangsa ini bertawakkal dengan senantiasa meningkatkan kualitas ketaqwaan masing-masing.

Sebagai seorang pemimpin jadilan pemimpin yang beriman dan bertaqwa, sehingga kepemimpinan berada dibawah naungan Allah. Sebagai rakyat jelata, hiasilah hidup dengan iman dan taqwa sehingga hidup berada dibawah ridho Allah Swt. Allah berjanji akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi bila bangsa ini menghiasi hidup dengan iman dan taqwa (QS. Al-A'raaf : 96)

 

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an

SOLOPOS, Jumat 15 Februari 2019
solpos