Bermedia Sosial dengan Bijak

Imam Bukhari menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang definisi orang Islam, yakni : "Al muslimu man salimal muslimuuna min lisaanihi wa yadihi"

Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Artinya orang Islam itu pandai mengendalikan ucapan yang bersifat mengancam keselamatan orang-orang Islam yang lain seperti ghibah, namimah, fitnah, berita bohong dan sejenisnya. Dia juga pandai mengendalikan perbuatannya termasuk tangannya agar tidak merugikan orang lain.

Dulu kita tidak pernah berpikir bahwa jari tangan kita bisa menyebarkan ghibah, namimah, fitnah, berita bohong dan sejenisnya. Sekarang pada era informasi ini kita menyaksikan betapa banyak ghibah, firnah, namimah dan berita bohong disebarkan oleh jari tangan manusia melalui media sosial (medsos).

Orang Islam tidak layak berbuat demikian karena yang deikian itu menentang larangan Rasulullah SAW diatas.

Media sosial memiliki potensi yang dahsyat untuk dimanfaatkan sebagai media dakwah untuk menyebarkan kebaikan, mengajak manusia kembali ke jalan Allah, mendorong mereka untuk beramal shaleh.

Media sosial juga memiliki potensi merusak yang luar biasa bila tidak bijak dalam memanfaatkannya. Penyakit masyarakat seperti perjudian dan pelacuran dengan mudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia melalui media sosial.

Minuman keras dan narkoba dengan mudah dipesan melalui media sosial. Media sosial juga disalah gunakan untuk menyebarkan HOAKS(konten bohong) yang disengaja untuk memfitnah, menghasut, memprovokasi, mengadu domba untuk menimbulkan kegaduhan bahkan perpecahan sesama anak bangsa.

Yang benar tampak salah, sedangkan yang salah tampak benar. Media cetak, elektronik dan media sosial dikuasai satu pihak untuk dipergunakan untuk memojokkan pihak lain. Seringkali sulit membedakan antara berita bohong dan berita benar.

Demi keselamatan diri sendiri, keluarga, masyarakat, umat Islam dan bangsa Indonesia hendaknya kita semua bersikap bijak dalam memanfaatkan media sosial.

Kelalaian dalam memanfaatkan media sosial akan dituntut undang-undang tentang informasi dan transaksi elektronik (ITE). Beberapa pengguna facebook telah ditangkap polisi dan dijebloskan kedalam penjara karena ujaran kebencian, fitnah, provokasi dan berita bohong.

Sedangkan di akherat para penyebar berita bohong diancam dengan neraka. Allah mengancam mereka yang berperan besar dalam penyebaran berita bohong itu akan menerima adzab yang besar dari Allah (QS. An Nur 24:11)

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.

Mari kita lebih bijak dalam memanfaatkan sosial media dengan senantiasa menghadirkan Allah dalam semua aktivitas kita didunia nyata dan dunia maya. Kita warnai aktivitas bermedia sosial kita denga taqwa sehingga apa yang diperintahkan Allah kita taati dan yang dilarang Allah kita hindari.

Rasulullah SAW mengingatkan : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam" (HR.Bukhari dan Muslim)

Mari kita implementasikan pesan itu dalam bermedia sosial dengan menulis status dan komentar yang baik-baik saja atau diam tidak menulis sama sekali.

Semoga dengan cara seperti itu Allah menolong kita dan menghindarkan umat islam dan bangsa Indonesia ini dari perpecahan. Amin

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an
SOLOPOS, Jumat 08 Desember 2017
solpos