700 Anggota SAR-MTA bersama Sukarelawan SAR bersihkan Sungai Garuda

sar-mta

Sebanyak 700 anggota SAR Majlis Tafsir Alquran (MTA) bersama 100 sukarelawan SAR lainnya membersihkan Sungai Garuda sepanjang 2 km, Sabtu (26/10).  Kegiatan itu dilakukan lantaran sampah yang menumpuk mencapai 100 ton.

Bersih-bersih sungai itu dibagi dalam empat lokasi, yakni mulai dari Sungkul (Karangmalang), Kebonagung (Karangmalang), Mageru (Sragen), dan Bendungan Ledok (Sragen). Dari empat lokasi tersebut, tumpukan sampah paling banyak berada di Bendungan Ledok.

Sebelum bersih-bersih sungai mereka menggelar apel di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen dipimpin Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.  Bupati dan Wabup Dedy Endriyatno bersama Sekda Sragen Tatag Prabawanto  melihat kondisi sampah di Bendungan Ledok.

Satgas MTA langsung terjun dan menarik sampah di tengah sungai menggunakan bambu. Ada juga yang membersihkan pinggiran sungai, seperti alang-alang dan tanaman perdu lainnya. Ketua MTA Perwakilan Kabupaten Sragen Agus Suhono saat ditemui wartawan mengatakan kegiatan bersihbersih sungai ini dilakukan untuk menyambut musim penghujan agar sungai bersih, tidak jadi sarang nyamuk, dan aliran lancar sehingga saat musim penghujan tidak terjadi banjir.

Kepala DLH Sragen Samsuri mengatakan sampah di Sungai Garuda Sragen diperkirakan mencapai 100 ton. Dia menyampaikan pembersihan sampah ini membutuhkan gerakan masyarakat terus menerus karena kesadaran masyarakat untuk tidak buang sampah ke sungai masih rendah.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengaku malu karena inisiatif bersih-bersih sampah di sungai itu mestinya dari Pemkab Sragen tetapi justru MTA.

Dia mengatakan dalam persoalan sampah itu yang paling penting edukasi masyarakat agar tidak buang sampah ke sungai.  “Sepertinya harus ada shock terapy kepada masyarakat yang bandel buang sampah ke sungai. Peraturan soal sampah jelas ada sanksi pidana dan denda. Selama ini kami akui abai tentang hal itu. Selama ini hanya membuat imbauan berupa tulisan. Ternyata hal itu tidak membuat jera sehingga harus ada yang ditangkap dan didenda kemudian diekspos ke media massa untuk pembelajaran,” ujar Yuni.

Tri Rahayu
redaksi.minggu@solopos.co.id