Profil Sekilas

Pendirian dan Tujuan

logomtakecilYayasan Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Surakarta adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berkedudukan di Surakarta. MTA didirikan oleh Almarhum Ustadz Abdullah Thufail Saputra di Surakarta pada tanggal 19 September 1972.

Latar Belakang

Ustadz Abdullah Thufail Saputra, seorang mubaligh yang karena profesinya sebagai pedagang mendapat kesempatan untuk berkeliling hampir ke seluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya, melihat bahwa kondisi umat Islam di Indonesia tertinggal karena umat Islam di Indonesia kurang memahami Al-Qur’an. Oleh karena itu, sesuai dengan ucapan Imam Malik bahwa umat Islam tidak akan dapat menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan umat Islam baik pada awalnya, yaitu Al-Qur’an, Ustadz Abdullah Thufail Saputra yakin bahwa umat Islam Indonesia  hanya akan dapat melakukan emansipasi apabila umat Islam Indonesia mau kembali ke Al-Qur’an. Demikianlah, maka Ustadz Abdullah Thufail Saputra pun mendirikan MTA sebagai rintisan untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an.

TUJUAN

Tujuan didirikannya MTA adalah untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam bidang sosial dan keagamaan, seperti penyelenggaraan pendidikan formal dan non-formal dan penyelenggaraan berbagai kegiatan pengajian dan pendirian lembaga pendidikan keagamaan yang terkait. Tujuan tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an  dalam kehidupan sehari-hari.

BADAN HUKUM

Sebagai lembaga dakwah yang independen MTA tidak ingin menjadi underbouw dari organisasi massa atau organisasi politik manapun. Bahkan MTA tidak menghendaki berubah menjadi organisasi massa atau organisasi politik. Namun di negara hukum Indonesia ini, MTA juga tidak ingin menjadi lembaga yang bersifat ilegal. Untuk itu secara resmi, MTA didaftarkan sebagai lembaga berbadan hukum dalam bentuk yayasan dengan akta notaris R. Soegondo Notodisoerjo Notaris di Surakarta nomor 23 tahun 1974. Kemudian untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2004 tentang  yayasan, MTA didaftarkan kembali sebagai yayasan dengan akta  notaris  Budi  Yojantiningrum, SH,  Notaris di Karanganyar, nomor  01  tanggal 6 September  2006,  dan disahkan   oleh   Menkum   dan   HAM  dengan  Keputusan  Menteri No. C-2510.HT.01.02.TH 2006, yang ditetapkan tanggal 03 November 2006 dan tercatat dalam Berita Negara Tanggal 27 Februari 2007, No. 17. Kemudian susunan pengurus diubah lagi dengan Akta Perubahan Yayasan  Majlis Tafsir Al Qur’an Surakarta nomor 02, tanggal 08 Februari 2011, dibuat oleh Sri indriyani, S.H., Notaris di Boyolali.

STRUKTUR LEMBAGA

Struktur MTA sebagai lembaga terdiri atas pusat, perwakilan, dan cabang. MTA pusat berkedudukan di Surakarta. Perwakilan MTA berkedudukan di tingkat kota/kabupaten. Cabang MTA berkedudukan di tingkat kecamatan. Berdasarkan data September 2013, perwakilan dan cabang MTA berjumlah 430 tersebar mulai dari Aceh, Jawa, hingga Kalimantan, Bali, dan NTB. Masih ada binaan-binaan lain hingga di Papua yang pada waktu mendatang siap untuk diresmikan.

KEGIATAN

1. Pengajian

Sesuai dengan tujuan pendirian MTA, yaitu untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an, kegiatan utama di MTA berupa pengajian Al-Qur’an. Pengajian Al-Qur’an ini dilakukan dalam berbagai pengajian yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengajian khusus dan pengajian umum.

a. Pengajian khusus

Sesuai Pengajian khusus adalah pengajian yang siswa-siswanya (juga disebut dengan istilah peserta) terdaftar dan setiap masuk dicatat kehadirannya (ada tertib presensinya). Pengajian khusus ini diselenggarakan seminggu sekali, baik di pusat maupun di perwakilan-perwakilan dan cabang-cabang, dengan guru pengajar yang dikirim dari pusat atau yang disetujui oleh pusat. Di perwakilan-perwakilan atau cabang-cabang yang tidak memungkinkan dijangkau satu minggu sekali, kecuali dengan waktu yang lama dan tenaga serta biaya yang besar, pengajian yang diisi oleh pengajar dari pusat diselenggarakan satu bulan sekali, bahkan ada yang diselenggarakan satu semester sekali. Perwakilan-perwakilan dan cabang-cabang yang jauh dari Surakarta ini menyelenggarakan pengajian seminggu sekali sendiri-sendiri. Konsultasi ke pusat dilakukan setiap saat melalui media komunikasi yang ada.

Materi yang diberikan dalam pengajian khusus ini adalah tafsir Al-Qur’an dengan acuan tafsir Al-Qur’an yang dikeluarkan oleh Departemen Agama dan kitab-kitab tafsir lain baik karya ulama-ulama Indonesia maupun karya ulama-ulama dari dunia Islam yang lain, baik karya ulama-ulama salafi maupun ulama-ulama kholafi.

Proses belajar mengajar dalam pengajian khusus ini dilakukan dengan teknik ceramah dan tanya jawab. Guru pengajar menyajikan materi yang dibawakannya kemudian diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Dengan tanya jawab ini pokok bahasan dapat berkembang ke berbagai hal yang dipandang perlu. Dari sinilah, kajian tafsir Al-Qur’an dapat berkembang ke kajian aqidah, kajian syareat, kajian akhlak, kajian tarikh, dan kajian masalah-masalah aktual sehari-hari. Dengan demikian, meskipun materi pokok dalam pengajian khusus ini adalah tafsir Al-Qur’an, tidak berarti cabang-cabang ilmu agama yang lain tidak disinggung. Bahkan, sering kali kajian tafsir hanya disajikan sekali dalam satu bulan dan apabila dipandang perlu kajian tafsir untuk sementara dapat diganti dengan kajian-kajian masalah-masalah lain yang mendesak untuk segera diketahui oleh siswa. Di samping itu, pengkajian tafsir Al-Qur’an yang dilakukan di MTA secara otomatis mencakup pengkajian Hadits karena ketika pembahasan berkembangan ke masalah-masalah lain mau tidak mau harus merujuk Hadits.

Dari itu semua dapat dilihat bahwa yang dilakukan di MTA bukanlah menafsirkan Al-Qur’an, melainkan mengkaji kitab-kitab tafsir yang ada dalam rangka pemahaman Al-Qur’an agar dapat dihayati dan selanjutnya diamalkan.

b. Pengajian Umum

Pengajian umum adalah pengajian yang dibuka untuk umum, siswanya tidak terdaftar dan tidak dicatat kehadirannya (tidak ada tertib presensinya). Materi pengajian lebih ditekankan pada hal-hal yang diperlukan dalam pengamalan agama sehari-hari. Pengajian umum ini diselenggarakan satu minggu sekali pada hari Minggu pagi (Pengajian Umum Ahad Pagi), bertempat di Gedung MTA Jl. Ronggowarsito No. 111 A Surakarta yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 8 Maret 2009.

gedung-ahad-pagi-mta-soloGbr. Gedung Pengajian Ahad Pagi

Setiap minggu tidak kurang 6000 orang dari berbagai penjuru hadir mengikuti Jihad Pagi dengan tertib. Tokoh-tokoh nasional yang pernah hadir mengisi Pengajian Ahad Pagi dan bersilaturahim di MTA seperti :
1. Amir Murtono.
2. Ir. Akbar Tanjung.
3. Prof. Dr. Amin Rais, M.A.
4. Dr. Hidayat Nur Wahid.
5. Prof. Dr. Dien Syamsuddin, M.A.
6. Dr. MS Ka’ban.
7. KH. Drs. Amidan.
8. KH. Ahmad Cholil Ridwan, LC.
9. Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.
10. KH. Zainuddin MZ.
11. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.
12. Dr. Mohammad Syafei Antonio.
13. Prof. Dr. Ahmad Rofik.
14. Prof. Dr. Amin Suma.
15. Dr (HC) HM. Hatta Rajasa.

2. Pendidikan

Pengamalan Al-Qur’an membawa ke pembentukan kehidupan bersama berdasar Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kehidupan bersama ini menuntut adanya berbagai kegiatan yang terlembaga untuk memenuhi kebutuhan anggota. Salah satu kegiatan terlembaga yang dibutuhkan oleh anggota adalah pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai keislaman. Oleh karena itulah, di samping pengajian, MTA juga menyelenggarakan pendidikan, baik formal maupun non-formal.

a. Pendidikan formal

Pendidikan formal yang telah diselenggarakan terdiri atas TK, SD, SMP. dan SMA. Tujuan dari penyelenggaraan pendidikan formal ini adalah untuk menyiapkan generasi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, di samping memperoleh pengetahuan umum berdasar kurikulum nasional yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional, pendidikan formal juga memperoleh pelajaran diniyah.

Di samping diberi pelajaran diniyah, untuk mencapai tujuan tersebut siswa SMP dan SMA juga diberi bimbingan dalam beribadah dan bermu’amalah. Untuk itu, para siswa SMP dan SMA yang memerlukan asrama diwajibkan tinggal di asrama yang disediakan oleh sekolah. Dengan tinggal di asrama yang dikelola oleh sekolah dan yayasan, maka siswa SMP dan SMA dapat dibimbing dan diawasi agar dapat mengamalkan pejaran diniyah dengan baik.

Alhamdulillah, sampai pada saat ini, baik SMP maupun SMA berhasil meraih prestasi akademis yang cukup menggembirakan. Oleh karena prestasinya itu, SMA MTA masuk ke dalam daftar lima puluh SMA Islam unggulan se-Indonesia. Di samping itu, siswa-siswa yang melakukan kenakalan yang umum dilakukan oleh remaja-remaja dapat dideteksi dan selanjutnya dibimbing semaksimal mungkin untuk menghentikan kenakalan-kenakalannya.

b. Pendidikan non-formal

Pendidikan non-formal diselenggarakan oleh MTA untuk memberi bekal siswa / peserta MTA berupa pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan. Adapun pendidikan non-formal yang diselenggarakan oleh MTA antara lain adalah kursus otomotif dengan bekerjasama dengan BBLK Kota Surakarta, kursus menjahit bagi siswi-siswi putri, bimbingan belajar bagi siswa-siswa SMP dan SMA. Disamping itu, berbagai kursus insidental sering diselenggarakan oleh MTA Pusat, misalnya kursus kepenulisan, kewartawanan dan kursus bahasa.

3. Kegiatan Sosial

Kehidupan bersama yang dijalin di MTA tidak hanya bermanfaat untuk warga MTA sendiri, melainkan juga untuk masyarakat pada umumnya. Dengan kebersamaan yang kokoh, berbagai amal sosial dapat dilakukan. Amal sosial tersebut antara lain adalah donor darah, kerja bakti bersama dengan Pemda dan TNI, pemberian santunan berupa sembako, pakaian, dan obat-obatan kepada umat Islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya yang sedang tertimpa musibah, dan lain sebagainya.

Donor darah, begitu juga kerja bakti bersama Pemda dan TNI, sudah mentradisi di MTA, baik di pusat mau pun di perwakilan dan cabang. Secara rutin tiga bulan sekali MTA, baik pusat maupun perwakilan, menyelenggarakan donor darah. Kini MTA memiliki tidak kurang dari 7.000 pedonor tetap yang setiap saat dapat diambil darahnya bagi yang mendapat kesulitan untuk memperoleh darah dari keluarganya atau dari yang lainnya.

Selain itu, MTA aktif berpartisipasi membantu korban konflik dan bencana. Pada beberapa konflik  sara dan politik di Solo, MTA menjadi dapur umum bagi korban konflik. Pada konflik sara di Ambon, MTA mengirim bantuan ke Ambon dan Tual. Pada berbagai bencana alam, MTA aktif berpartisipasi dengan mendirikan posko dan mengirim bantuan. Pada waktu terjadi banjir di Karawang dan Pati  MTA mengirimkan bantuan makanan, obat-obatan, dan pakaian. Pada waktu gempa dan tsunami di Aceh, MTA mendirikan Posko selama dua bulan. Begitu pula ketika terjadi gempa di DIY, tanah longsor di Banjarnegara, MTA  juga mendirikan posko. Ketika terjadi letusan Gunung Merapi, MTA mengirim Tim SAR. Sekarang ini MTA baru saja selesai membantu  korban gempa yang terjadi di Takengon, Aceh.

Kegiatan lain yang perlu dikemukakan adalah kegiatan penyembelihan hewan qurban pada hari raya Iedul Adha. Kegiatan ini adalah kegiatan ibadah, namun memiliki dimensi sosial yang besar karena hewan qurban yang disembelih di MTA Pusat di Surakarta mencapai ribuan. Hewan qurban yang disembelih di tiga tempat pada hari raya Iedul Adha tahun 2013 mencapai 620 ekor sapi dan 2500 ekor kambing, disembelih selama empat hari (hingga hari tasyrik ketiga), dan dikemas menjadi 120 ribu besek daging. Pembagian daging hewan qurban tersebut yang sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun berjalan dengan tertib dan lancar. Begitu pula penyembelihan hewan qurban di perwakilan-perwakilan dan cabang-cabang MTA di seluruh Indonesia bisa berjalan dengan tertib dan lancar.

Dalam memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, selama beberapa tahun terakhir, MTA membagikan sembako untuk anggota masyarakat yang kurang  beruntung  di  sekitar  kantor/majlis.  Kegiatan  sosial  yang  dilakukan  di seluruh perwakilan dan cabang MTA ini disebut dengan Paket Kemerdekaan. Tujuan dari kegiatan sosial ini adalah agar pada hari kemerdekaan RI semua anggota masyarakat di sekitar kantor/majlis dapat merasakan kemaslahatan dari kemerdekaan.

4. Kepemudaaan

Kegiatan MTA yang semakin banyak, baik kegiatan internal MTA mau pun kegiatan eksternal seperti pemberian bantuan kepada korban bencana, MTA membutuhkan Satuan Tugas.  Maka pada tahun 2002, Satgas MTA dibentuk, dikukuhkan oleh Ketua MUI Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin, MA di alun-alun utara Kraton Surakarta. Untuk memberikan pelatihan baris-berbaris kepada Satgas MTA, MTA bekerjasama dengan Polresta Surakarta dan Koramil Pasarkliwon. Bahkan sebagian dari Satgas MTA tersebut kini telah lulus pelatihan Satpam yang diselenggarakan Polresta Surakarta dan bekerja di beberapa instansi.

Kegiatan rutin Satgas MTA adalah melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas dalam berbagai pengajian akbar yang diselenggarakan oleh MTA atau MUI maupun umat Islam yang lain. Ketika terjadi bencana, Satgas MTA menjadi tulang punggung  relawan MTA dalam memberikan bantuan kepada korban, seperti dalam penanganan banjir di Karawang, gempa dan tsunami di Aceh pada tahun 2004, gempa di Yogyakarta pada tahun 2006, dan erupsi Merapi pada tahun 2010.

Oleh karena bencana alam seolah sudah menjadi sesuatu yang rutin di Indonesia, maka partisipasi dalam penangan bencana ini perlu dilembagakan. Untuk itulah  MTA membentuk tim SAR (Search And Rescue) yang mendapat pelatihan dari BASARNAS dan menjadi bagian dari BASARNAS. SAR MTA inilah yang menjadi ujung tombak partisipasi MTA  dalam penangan dampak erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010.

5. Ekonomi

Kehidupan bersama di MTA juga menuntut adanya kerjasama dalam pengembangan ekonomi. Untuk itu, di MTA diselenggarakan usaha bersama berupa simpan-pinjam. Dengan simpan-pinjam ini, siswa atau warga MTA dapat memperoleh modal untuk mengembangkan kehidupan ekonominya. Di samping itu, siswa atau warga MTA biasa tukar-menukar pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang ekonomi.
Seorang warga MTA yang belum mendapat pekerjaan atau kehilangan pekerjaan dapat belajar pengetahuan atau ketrampilan tertentu kepada siswa atau warga MTA yang lain sampai akhirnya dapat bekerja sendiri.

6. Kesehatan

Dalam bidang kesehatan, MTA melakukan rintisan untuk dapat mendirikan sebuah rumah sakit yang diselenggarakan secara Islami. Kini MTA  telah dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan berupa Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin. Di samping itu, untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada siswa atau warga MTA dibentuk kader-kader kesehatan dari perwakilan-perwakilan dan cabang-cabang MTA yang secara periodik mengadakan pertemuan.

7. Penerbitan, Komunikasi, dan Informasi

Penerbitan, komunikasi, dan informasi merupakan sendi-sendi kehidupan modern, bahkan juga merupakan sendi-sendi globalisasi. Untuk itu, MTA tidak mengabaikan bidang ini, meskipun yang dapat dikerjakan baru ala kadarnya. Dalam bidang penerbitan, MTA telah memiliki majalah bulanan yaitu Respon dan Al Mar’ah. MTA juga menerbitkan berbagai buku keagamaan.

Dalam bidang teknologii informasi, MTA telah mempunyai web. site dengan alamat: http://www.mta.or.id dengan alamat E-mail : humas_mta@yahoo.com

MTA juga telah  memiliki  sarana  komunikasi  berupa media elektronik, yaitu Radio dan TV  yang sedang diproses perizinannya. Bahkan sejak bulan April 2010, MTA FM bisa didengarkan melalui satelit, ataupun melalui website & streaming : www.mtafm.com dan www.mtatv.net.

Melalui media ini dakwah dapat di dengar di seluruh tanah air bahkan mancanegara

KERJASAMA

Sudah menjadi kebiasaan MTA bila mengadakan kegiatan sosial bekerjasama dengan instansi pemerintah terkait. Seperti pada saat mengadakan pengobatan gratis, MTA bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat. Pada saat mengadakan donor darah bekerjasama dengan PMI. Satgas MTA sering terlibat dalam program TMMD yang diselenggarakan oleh TNI. Satgas MTA juga sering membantu POLRI di berbagai kesempatan yang memerlukan pengamanan ekstra.

Pada saat Presiden Dr. Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Surakarta untuk meresmikan Gedung Pusat MTA, Satgas MTA all out membantu tugas Paspampres dalam menjaga ketertiban dan keamanan.

Pada saat terjadi bencana, Satgas MTA berkoordinasi dengan BNPB, bahkan sebagian anggota Satgas MTA tergabung dalam BASARNAS. MTA juga pernah bekerjasama dengan Kemenhut RI yang saat itu dipimpin oleh Bapak Dr. H. MS Kaban, SE, M.Si, melakukan penanaman pohon keras dalam rangka mensukseskan program pemerintah menanam sejuta pohon.

Dalam bidang dakwah, setiap Ramadhan, MTA melayani permintaan da’i sebagai narasumber oleh RRI Surakarta dan TVRI Stasiun Yogyakarta, meskipun sudah memilki pemancar radio sendiri, MTA FM dan PERSADA FM, dan sedang merintis stasiun televisi sendiri, MTA TV.

Dalam bidang dakwah melalui tulisan, MTA juga melayani permintaan untuk mengisi rubrik Mimbar Jum’at di Solopos. Beberapa surat kabar seperti Suara Merdeka, Joglosemar, dan Solopos tercatat secara rutin meminta tulisan dari MTA. Bahkan MTA juga menjalin kerjasama yang intensif dengan surat kabar Jateng Pos dalam syi’ar Islam melalui tulisan. Secara insidentil, MTA juga melayani permintaan da’i oleh berbagai instansi dan masyarakat umum yang membutuhkan da’i untuk peringatan hari-hari besar Islam. MTA juga melayani permintaan ustadz untuk mengisi pengajian rutin seminggu sekali di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Surakarta sampai saat ini dan pernah juga melayani permintaan ustadz untuk LP Salatiga. Pengajian di LP Salatiga ini berkembang di luar LP dan kini sudah resmi menjadi MTA Perwakilan Salatiga.

MTA juga melakukan kerjasama dengan umat Islam yang lain untuk membangun sinergi dalam beramal dan berdakwah. Ketika MUI Pusat melakukan demo mendukung UU Anti Pornografi  pada 2 Juli 2006, MTA diminta  mengirim Satgas untuk  menjaga  ketertiban  dan  keamanan  demo,   dan  MTA  mengirim  10  bis Satgas.

MTA juga berkali-kali mengirim massa dalam berbagai kegiatan akbar yang digelar MUI Pusat. Sinergi dalam beramal dan berdakwah dengan umat Islam yang lain di Surakarta di bawah koordinasi MUI Kota Surakarta sudah menjadi agenda rutin. Bahkan hampir setiap saat MUI Kota Surakarta menyelenggarakan rapat untuk koordinasi, MTA yang senantiasa diminta untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan.

SUMBER DANA

Banyak yang bertanya-tanya dengan heran, darimana MTA memperoleh dana untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya? Isu yang pernah berkembang di masyarakat adalah bahwa MTA memperoleh dana dari luar negeri, isu lain mengatakan bahwa MTA memperoleh dana dari orpol tertentu. Sesungguhnya, apabila umat Islam betul-betul memahami dan menghayati agamanya, keheranan semacam itu tidak perlu muncul. Bahwa jihad merupakan salah satu sendi keimanan tidak ada yang meragukan, bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa jihad merupakan rukun Islam yang ke-enam.
Akan tetapi bahwa sesungguhnya jihad terdiri atas dua unsur, yakni jihad bi amwal dan jihad bi anfus, kurang dihayati. Biasanya hanya jihad bi anfus saja yang banyak dikerjakan. Apabila jihad bi amwal dihayati dengan baik dan diamalkan, umat Islam tidak akan kekurangan dana untuk membiayai kegiatan-kegiatannya.

MTA membiayai seluruh kegiatannya sendiri karena warga MTA yang ingin berpartisipasi dalam setiap kegiatan harus berani berjihad bukan hanya bi anfus, akan tetapi juga bi amwal, karena memang demikianlah yang dicontohkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya.

PERKEMBANGAN

Ustadz Abdullah Thufail Saputra memimpin MTA selama 20 tahun kurang 4 hari. Beliau dipanggil ke rahmatullah pada tanggal 15 September 1992. Ketika beliau meninggal, MTA sudah tersebar  ke  seluruh  wilayah  di  Karesidenan  Surakarta (sekarang Solo Raya) dan Semarang, bahkan sudah tersebar sampai di Lombok Barat, Jawa Timur, DIY, Bandung, dan Jakarta. Sepeninggal Ustadz Abdullah Thufail Saputra, MTA dipimpin Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina yang dipilih secara aklamasi oleh warga MTA.

Dalam kepemimpinan Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina, MTA semakin tumbuh subur berkembang ke berbagai penjuru Nusantara. Saat ini perwakilan dan cabang MTA berjumlah 430 (sumber data September 2013), tersebar mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Palembang, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, seluruh Jawa, Bali, dan NTB. Masih ada binaan MTA yang lain hingga di Papua yang pada waktu mendatang siap untuk diresmikan.

PENUTUP

Gambaran secara singkat tentang MTA yang dipaparkan dalam profil ini mudah-mudahan dapat memberikan gambaran lengkap tentang MTA yang sudah berkembang pesat selama 41 tahun. Namun yang berkehendak mengenal MTA lebih dekat dapat hadir dalam kajian-kajian MTA di seluruh Indonesia atau dapat langsung datang ke MTA Pusat di Jl. Ronggowarsito No. 111 A Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia.

 

YAYASAN MAJLIS TAFSIR AL QUR’AN (MTA) SURAKARTA

Alamat lama              : Jl. Serayu No. 12 Semanggi RT.06 / RW.15 Pasarkliwon, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia, Kode Pos: 57117
Alamat baru               : Jl. Ronggowarsito No. 111A Surakarta
Telepon                      : (0271) 663299
Faksimili                    : (0271) 663977
Akta Notaris              : R. Soegondo Notodisoerjo No. 23 Tahun 1974
Website                       : www.mta.or.id 
E-mail                          : humas@mta.or.id

PENGURUS MTA PUSAT

Pembina                     : Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Ketua Umum             : Suharto, S.Ag
Ketua 1                       : Suhadi DS
Sekretaris Umum     : Dr. Yoyok Mugiyatno, M.Si.
Sekretaris 1               : Drs. Medi
Bendahara Umum    : Mansur Masyhuri
Bendahara 1              : Ir. Sunarjo

About the Author

has written 12 stories on this site.

MTA Surakarta

Copyright © 2015 MTA.OR.ID. All rights reserved.